Belajar dari Covid-19, Pakar UB: Peran Guru Tidak Terganti Teknologi

Kompas.com - 04/05/2020, 14:06 WIB
Siswa SD Negeri Kebon Manggis 08 Pagi mengikuti sosialisasi kesehatan gigi dan mulut yang diinisiasi BLEMBA 25 mahasiswa pascasarjana Institut Teknologi Bandung dan Sinergi Foundation, Sabtu (7/3/3020). Selain sosialisasi kesehatan dan sanitasi, termasuk cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar serta pemilahan sampah, juga menggelar kelas inspirasi yang memberi motivasi dan sejumlah pelatihan bagi guru dan murid. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOSiswa SD Negeri Kebon Manggis 08 Pagi mengikuti sosialisasi kesehatan gigi dan mulut yang diinisiasi BLEMBA 25 mahasiswa pascasarjana Institut Teknologi Bandung dan Sinergi Foundation, Sabtu (7/3/3020). Selain sosialisasi kesehatan dan sanitasi, termasuk cara mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar serta pemilahan sampah, juga menggelar kelas inspirasi yang memberi motivasi dan sejumlah pelatihan bagi guru dan murid.

KOMPAS.com - Ada sebuah pelajaran yang dipetik dari dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19, yakni kegiatan belajar tatap muka dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara daring (online).

Hal tersebut dipaparkan oleh Pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Aziz bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2020.

"Selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi," papar Luqman dalam keterangan tertulis di laman resmi UB, Sabtu (2/5/2020).

Menurutnya, pembelajaran penuh secara daring, akhir-akhir ini banyak menimbulkan keluhan dari peserta didik maupun orangtua.

"Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Bagaimanapun, pembelajaran terbaik adalah bertatap muka dan berinteraksi dengan guru dan teman-teman," imbuhnya.

Baca juga: Orangtua Beri Iming-iming Agar Anak Mau Belajar, Bolehkah?

Melalui proses belajar mengajar secara tatap muka, lanjut Luqman, siswa mendapatkan nilai-nilai yang tak bisa didapatkan melalui pembelajaran daring.

Nilai-nilai tersebut antara lain proses pendewasaan sosial, budaya, etika, dan moral, yang hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial di suatu area pendidikan.

Perlu adaptasi proses belajar di masa pandemi

Perubahan sosial yang tiba-tiba terjadi sebagai akibat merebaknya penyebaran Covid-19, menurut Luqman telah menimbulkan kegagapan dalam proses penyesuaian kegiatan belajar mengajar.

Karena itulah, ia berpendapat bahwa tidak mungkin jika sebuah pembelajaran ideal dicapai di masa pandemi seperti sekarang ini.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

Ia mengibaratkan siswa yang belajar di masa pandemi seperti pemain bola yang sedang cedera.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X