Cerita Guru Kiswanto Mengajar Jarak Jauh Murid SD Tanpa Internet

Kompas.com - 13/05/2020, 11:30 WIB
Kiswanto, seorang Guru Sekolah Transmigrasi, terus berupaya agar anak muridnya yang tidak disokong teknologi di rumah, untuk tetap bisa belajar layaknya siswa lain yang mampu mengakses pembelajaran secara daring. Dok. KOMPAS.com/AYUNDA PININTA KASIHKiswanto, seorang Guru Sekolah Transmigrasi, terus berupaya agar anak muridnya yang tidak disokong teknologi di rumah, untuk tetap bisa belajar layaknya siswa lain yang mampu mengakses pembelajaran secara daring.

KOMPAS.com - Tidak adanya jaringan internet, ketidakmampuan orangtua murid membeli gawai pintar, kuota, hingga televisi, tak membuat murid-murid kelas 4 SD SDN 169/V Cinta Damai, Tanjung Jabung Barat, Jambi, kehilangan hak untuk mendapat pengajaran dari guru.

Kiswanto, seorang Guru Sekolah Transmigrasi, terus berupaya agar anak muridnya yang tidak disokong teknologi di rumah, untuk tetap bisa belajar layaknya siswa lain yang mampu mengakses pembelajaran secara daring.

Ia bercerita, lokasi sekolah yang berada di Desa Cinta Damai merupakan pemukiman transmigrasi. Jarak ke Ibu Kota Kabupaten sekitar 150 kilometer dengan sebagai besar jalan masih berupa tanah.

"Rantai motor lepas, ban bocor itu adalah hal biasa. Tidak menyurutkan saya untuk terus semangat melakukan kegiatan pembelajaran untuk anak-anak," papar Kiswanto dalam dalam webinar Guru Berbagi yang diselenggarakan secara daring oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Tanoto Foundation, Selasa (12/5/2020).

Baca juga: Beasiswa SMP TIK Mizan, Bebas Biaya Pendidikan dan Hidup

Dalam webinar bertema "Manajemen Pembelajaran Daring untuk Sekolah Pedesaan", Kiswanto mengatakan 5 dari 20 siswanya tidak bisa mengikuti pembelajaran daring karena sejumlah alasan, yakni tidak memiliki gawai pintar dan tidak mampu membeli kuota internet.

Sehingga, 5 peserta didik yang tidak bisa mengikuti pembelajaran daring, ia fasilitasi dengan pembelajaran secara luring.

"Untuk 5 peserta yang tidak dapat akses internat saya lakukan pembelajaran secara luring," imbuhnya.

Kiswanto membagikan sejumlah cara bagaimana ia melakukan pembelajaran luring yang dapat membuat siswa aktif berkegiatan, ketimbang hanya merangkum pelajaran.

Baca juga: Universitas Pertahanan Buka Pendaftaran S1, Bebas Biaya Kuliah

Strategi pembelajaran luring, tak hanya berikan soal-soal

Sebagai langkah awal, Kiswanto melakukan sejumlah tahapan untuk memberikan media pembelajaran untuk murid tanpa akses internet. Langkah tersebut ialah:

1. Menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dengan ketentuan:

  • LKPD dibuat untuk tujuan pembelajaran yang sama dengan pembelajaran daring.
  • Penugasan disesuaikan dengan lingkungan belajar di rumah siswa.
  • Tugas atau pertanyaan harus jelas dan mampu mendorong dan membimbing siswa menemukan konsep sendiri.

2. Mengirim LKPD ke Kepala Sekolah melalui WA, dengan alasan rumah Kiswanto tidak berada di desa yang sama dengan siswa dan sekolah. Kepala Sekolah tinggal di rumah dinas yang berada di depan sekolah.

3. Kepala Sekolah membantu mencetak (print) lembar LKPD di sekolah.

4. Siswa mengambil LKPD dan mengumpulkan tugasnya ke sekolah atau rumah Kepala Sekolah.

Langkah tersebut merupakan cara teknis bagaimana siswa mendapatkan LKPD sebagai media pembelajaran luring. Selanjutnya, Kiswanto menjelaskan lebih detail isi LKPD yang menurutnya sangat penting untuk diperhatikan oleh guru.

Menurut Kiswanto, LKPD bukan hanya lembaran yang berisi soal dan kolom jawaban, lebih dari itu, LKPD harus menjadi media komunikasi luring antara murid, orangtua, dan guru.

Baca juga: Orangtua Beri Iming-iming Agar Anak Mau Belajar, Bolehkah?

"Sebelum masuk materi, saya pesankan agar anak tetap semangat, tetap aktif, dan bisa belajar bersama orangtua," tuturnya.

5. Membuat soal yang sesuai dengan dunia anak murid.

"Pahami dunia anak adalah dunia bermain, materi yang diberikan disesuaikan dengan dunia bermain anak," Kiswanto menegaskan.

Tujuannya, lanjut Kiswanto, agar anak semangat dan aktif dalam belajar, mengetahui perkembangan kondisi di lingkungan sekitar, serta menjalin komunikasi yang aktif dengan keluarga.

Kiswanto memberikan sejumlah contoh materi. Semisal, ia akan mengajarkan cara membuat diagram batang, maka lebih dulu anak diminta untuk wawancara ibu atau ayah di rumah terkait uang belanja dari tanggal 4-7 Mei 2020.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

Lalu, anak dibimbing untuk mengisi hasil wawancara dalam tabel yang telah tersedia, kemudian kembali dibimbing untuk membuat diagram batang.

Agar proses ini berhasil, Kiswanto menyarankan guru untuk menggunakan bahasa anak sehari-hari, dengan penjelasan detail, sehingga anak bisa mengikutinya.

Selain menyuguhkan tema akademis, Kiswanto juga membuat produk pembelajaran sesuai dengan situasi saat ini, seperti membuat poster tentang pencegahan covid-19.

6. Lembar refleksi sebagai umpan balik

Di akhir LKPD, Kiswanto memberikan siswa kolom untuk menuliskan refleksi setelah belajar dengan pertanyaan:

  • Apa saja yang sudah kamu pahami?
  • Apa saja yang belum kamu pahami?
  • Bagaimana perasaanmu ketika belajar tentang diagram batang ini?

Refleksi tersebut menurutnya sangat penting untuk mengetahui perbaikan apa yang diperlukan untuk masing-masing siswa, sehingga siswa tak hanya selesai kerjakan soal, namun diberi kesempatan untuk belajar lebih baik lagi.

7. Tetap berkomunikasi

Untuk siswa yang orangtuanya tak memiliki gawai pintar namun memiliki telepon rumah, Kiswanto akan melakukan komunikasi dengan orangtua dengan sambungan telepon biasa.

"Biasanya komunikasi dengan orangtua lewat telepon," pungkasnya.

 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X