Strategi Belajar Perkuat Kepemimpinan Perempuan Masuk "Society 5.0"

Kompas.com - 06/07/2020, 22:12 WIB
Webinar Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock dan Korps Wanita Indonesia (Kowani) pada 4 Juli 2020 mengangkat tema Emansipasi Wanita di Era Masyarakat 5.0. DOK. UNIVERSITAS FORT DE KOCKWebinar Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock dan Korps Wanita Indonesia (Kowani) pada 4 Juli 2020 mengangkat tema Emansipasi Wanita di Era Masyarakat 5.0.

KOMPAS.com - Upaya mewujudkan "Generasi Emas" tahun 2045 Indonesia khususnya bagi perempuan, makin menemukan tantangan seiring dengan merebaknya pandemi global covid-19 dan masuk dalam "Society 5.0".

Persoalan ini mengemuka dalam webinar digelar Fakultas Kesehatan Universitas Fort De Kock dan Korps Wanita Indonesia (Kowani) pada 4 Juli 2020 mengangkat tema "Emansipasi Wanita di Era Masyarakat 5.0".

Webinar menghadirkan beberapa pembicara utama, yakni; Giwo Rubianto (Ketua Kowani), Titi Savitri Prihatiningsih (FK Universitas Gadjah Mada) dan Evi Hasnita (Rektor Universitas Fort De Kock).

Isu strategi belajar dan kepemimpinan perempuan menjadi sentral pembahasan guna mendorong peranan perempuan sebagai "Ibu Bangsa" di saat ibu memegang peran utama dalam masa bekerja dan belajar dari rumah.

Peran "Ibu Bangsa" 

Ketua Kowani Giwo Rubianto, peran kepemimpinan perempuan menjadi isu penting selama masa bekerja dan belajar dari mana, di mana ibu memegang beragam pekerjaan (multi tasking) mulai dari sebagai pengasuh, pekerja hingga pendidik.

Baca juga: Di Masa Pandemi, Orangtua Berperan dalam Pendidikan Karakter Anak

"Kewajiban utama wanita Indonesia ialah menjadi Ibu Bangsa yang berarti berusaha menumbuhkan generasi baru yang sadar akan kebangsaannya," tegas Giwo.

Oleh karenanya, Giwo mendorong perempuan juga memiliki beberapa kompetensi kepemimpinan.

"Pemimpin (perempuan) harus memiliki setidaknya beberapa kompetensi penting di antaranya; kemampuan komunikasi efektif, keterampilan tim dan kepemimpinan, kompetensi manajerial hingga kemampuan mengembangkan jati diri, karakter dan kepribadian," ujarnya.

Ia menggambar beberapa sosok pemimpin perempuan besar seperti Ibu Teresa yang memiliki kelembutan hati dan juga Margaret Thatcher dengan ketegasan dalam kepemimpinan.

Selain kompetensi kepemimpinan, tambah Giwo, kepemimpinan perempuan juga perlu ditopang 6 karakter penting. Keenam karakter tersebut yakni;kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kewarganegaraan, rasa hormat, kepedulian dan kejujuran.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X