Akademisi ITB: Banyak Manfaat Terapi Hutan di Era New Normal

Kompas.com - 07/08/2020, 09:56 WIB
Ilustrasi hutan. Ilustrasi hutan.
|

KOMPAS.com - Banyak cara yang dapat dilakukan untuk melepas penat atau rasa stres. Salah satunya dengan terapi di suatu tempat yang sejuk dan indah.

Tapi, kini ada tren baru yakni terapi hutan ( healing forest). Ini bisa menjadi cara baru untuk memulihkan stres baik fisik maupun mental.

Terapi ini dapat dilakukan dengan cara memasuki kawasan hutan. Kemudian membiarkan hutan tersebut terhubung dengan semua indera manusia.

Seperti indra penciuman, penglihatan, pendengaran, pengecap, peraba dan gerakan. Semua anggota tubuh akan terhubung dengan suasana di hutan.

Baca juga: Dosen ITB Bagikan Tips Membuat Perencanaan Keuangan saat Pandemi

Dalam webinar yang digelar Kelompok Keahlian Manajemen Sumber Daya Hayati (MSDH) yang tergabung dalam fakultas Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung ( ITB) beberapa waktu lalu, disinggung mengenai terapi hutan.

Webinar bertajuk "Prospek Wisata Alam Memasuki New Normal" menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya Ir. Wiratno, M.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurutnya, penutupan kawasan konservasi didasari oleh berbagai pertimbangan utama yaitu arahan pemerintah, social distancing, dan menghindari penyebaran dan penularan Covid-19.

Dijelaskan, terdapat 54 Taman Nasional, 134 Taman Wisata Alam, dan 80 Suaka Margasatwa yang ditutup untuk kunjungan wisata alam.

4 kebijakan penutupan kawasan konservasi:

  1. Pemerintah meminta masyarakat mengurangi mobilitas di luar rumah.
  2. Social distancing/physical distancing atau menghindari kerumunan.
  3. Menghindari penyebaran Covid-19 dari pengunjung ke petugas atau sebaliknya.
  4. Menghindari potensi penularan Covid-19 dari pengunjung yang mungkin menjadi carrier kepada satwa liar.

Namun, seiring berlakunya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), ia memaparkan terdapat beberapa kebijakan untuk reaktivasi pariwisata yang tertuang dalam empat poin prioritas, yaitu:

  • kesehatan dan keamanan
  • potensi wisatawan domestik
  • pemanfaatan teknologi infomasi
  • kolaborasi untuk pemulihan pariwisata

"Sampai saat ini rencana pembukaan kembali daerah wisata sekitar 29 site, lalu persiapan pembukaan hanya untuk daerah kabupaten zona kuning dan hijau," ujarnya seperti dikutip dari laman ITB, Kamis (6/8/2020).

Dijelaskan, semua itu dimulai dari 10-20 persen pengunjung. Sebelum dibuka perlu dilakukan simulasi terpadu di setiap titik.

Tak hanya itu saja, pada pembukaan juga hanya dibuka satu titik agar bisa terkontrol, dan dievaluasi setiap minggu oleh tim untuk memastikan kesehatan dan keamanan.

Perbaiki psikologi di era new normal

Sementara Dr. Hikmat Ramdan, Anggota Kelompok Keilmuan Manajemen Sumber Daya Hayati (MSDH) SITH ITB, menjelaskan "prospek healing forest di era new normal".

Healing forest menjadi suatu konsep yang potensial untuk dikembangkan dalam kehutanan karena berhubungan dengan masalah kesehatan dan psikologi.

Selama wabah Covid-19 terjadi, tentunya manusia seperti berada di dalam "sangkar". Hal ini akan memunculkan reaksi emosional yang dinamakan cabin fever syndrome.

Baca juga: Kisah Hidup Sederhana Anak Penjaga Hutan, Kini Kuliah S3 di Jepang

Yaitu reaksi emosi yang muncul akibat terlalu lama menjalani isolasi atau karantina di dalam rumah atau satu tempat dalam waktu yang lama.

Ada 15 gejala yang muncul dalam reaksi ini yaitu merasa gelisah, mudah tersinggung, motivasi turun, jenuh berkepanjangan, sulit konsentrasi, suasana hati tidak jelas, tidak sabaran, merasa letih, tidak percaya kepada orang lain, dan perubahan pola tidur.

Maka dari itu, new normal menjadi kesempatan untuk memperbaiki psikologi seseorang akibat karantina yang terlampau lama.

"Dibukanya kawasan wisata di era new normal dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyembuhkan diri sendiri dengan pergi menuju kawasan konservasi alam dan menikmati lingkungan sekitarnya," ujar Dr. Hikmat.

Hubungkan manusia dengan alam

Secara filosofis, healing forest menjelaskan bagaimana menghubungkan manusia dengan alam. Karena itu, kawasan alam terutama hutan memiliki aspek ekologi yang beragam begitupun manusia juga merupakan makhluk ekologis yang selalu membutuhkan apapun yang alam butuhkan.

Secara terminologi, fungsi daripada healing forest pada psikologi manusia dapat didefinisikan dengan baik secara praktikal dengan menghubungkan manusia dengan alam melalui panca indranya.

Spot healing forest adalah tempat di kawasan hutan yang memiliki jasa kesehatan. Tentu hal tersebut diidentifikasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 7 Tahun 2019 dengan data spasial.

Data spasial itu meliputi temperatur, kelembapan relatif, intensitas cahaya, kemiringan (10-15 persen), tutupan lahan, kesunyian, dan kecepatan angin.

Data ini dapat diperoleh berdasarkan proses mapping dengan data SRTM (Demnas) maupun scanning langsung menggunakan perangkat terbang (drone).

"Wisata dengan tujuan healing hanya dilakukan di spot-spot yang memiliki healing services, pengutamaannya adalah menghubungkan diri dengan alam, serta menimbulkan rasa labih nyaman setelah mengunjungi tempat tersebut," katanya.

Baca juga: ITB Siap Wujudkan Eco-campus, Kampus Hijau Ramah Lingkungan

"Tentunya berbeda dengan wisata pada umumnya yang bergerombol, wisata healing dilakukan secara mandiri," jelas Dr. Hikmat.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X