Cara Singapura Lewati Gelombang 2 Covid Klaster Sekolah dan Universitas

Kompas.com - 01/10/2020, 15:48 WIB
Seorang penumpang (kanan) mengenakan masker saat melintas di Jewel Bandara Changi di Singapura, 27 Februari 2020, menyusul penyebaran Covid-19 novel coronavirus. AFP/ROSLAN RAHMANSeorang penumpang (kanan) mengenakan masker saat melintas di Jewel Bandara Changi di Singapura, 27 Februari 2020, menyusul penyebaran Covid-19 novel coronavirus.

Pada bulan Juli saat fase 2 dimulai, sekolah berjalan seperti biasa, tetapi tidak ada acara sekolah seperti upacara, pesta atau perayaan hari besar.

Dengan disiplin kebersihan dan penggunaan masker, sampai saat ini tidak ada klaster covid-19 di sekolah.

Klaster universitas

Bagi kampus yang sedang masa belajar, semua kuliah dilakukan secara online dan hanya praktikum atau kerja praktek yang harus dilakukan di laboratorium dapat dilakukan di kampus.

Pada fase 1, jumlah kelas tatap muka dibatasi maksimum 30 orang per kelas dengan menerapkan physical distancing sekitar 1 meter, sehingga dibutuhkan ruang kuliah yang lebih besar dari biasa.

Pada fase 2, jumlah siswa kelas tatap muka dibatasi maksimum 50 orang per kelas. Praktik ini akan dilanjutkan paling tidak sampai akhir tahun 2020.

Peran teknologi digital

Adapun salah satu kunci dari keberhasilan strategi pemerintah Singapura dalam menekan laju infeksi covid-19 dan membuka kegiatan ekonomi kembali banyak bergantung pada kerjasama pemerintah dan kesadaran individu warga dan, tidak kalah pentingnya, peran kemajuan teknologi digital di Singapura.

1. Safe Entry: Sejak Mei 2020, semua supermarket, mall dan pasar tradisional dilengkapi dengan fasilitas Safe Entry barcode di mana semua pengunjung diwajibkan untuk memasukan data secara digital sebelum masuk.

Baca juga: I-4 Diaspora: Pelajaran dari Jepang Dalam Penanganan Covid-19 dan New Normal

Data pengunjung ini akan sangat berguna saat diperlukan untuk contact tracing seandainya ada pengunjung yang terjangkit Covid-19.

2. Trace Together: semua penduduk dianjurkan untuk menyalakan aplikasi Trace Together yang bisa mencatat posisi pengguna telepon genggam saat ada di luar rumah.

3. Wearable Tracking Device: saat ini pemerintah sedang mendesain wearable tracking device yang bisa digunakan oleh orang yang tidak memiliki handphone seperti anak kecil dan manula. Alat ini akan dibagikan secara bertahap dalam 1-2 bulan ke depan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X