Kompas.com - 22/03/2021, 13:59 WIB
Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud dalam paparan Dukungan Perpustakaan dalam PJJ dan Meningkatkan Indeks PISA di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021.

DOK. PERPUSNASTotok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud dalam paparan Dukungan Perpustakaan dalam PJJ dan Meningkatkan Indeks PISA di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021.

KOMPAS.com - Tidak hanya disrupsi teknologi, pandemi Covid-19 turut memberi dampak besar penguatan kemampuan literasi siswa Indonesia. Oleh karenanya, peran perpustakaan menjadi bagian penting dari program Merdeka Belajar yang digagas Kemendikbud. 

Hal ini disampaikan Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud dalam paparan "Dukungan Perpustakaan dalam PJJ dan Meningkatkan Indeks PISA" di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021.

Dalam Rakornas Perpustakaan 2021 yang digelar Perpustakan Nasional (Perpusnas) 22-23 Maret 2021 , Totok mengungkapkan hasil PISA 2018 masih membuktikan kurang memadainya hasil belajar pendidikan dasar dan menengah di Indonesia.

Tahun ini, Rakornas Bidang Perpustakaan 2021 mengangkat tema "Integrasi Penguatan Sisi Hulu dan Hilir Budaya Literasi dalam Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural" dan diikuti lebih dari 1.000 pustakawan dan penggiat literasi.

"Siswa kita hanya mampu memahami apa-apa yang tertuang dalam teks, memecahkan masalah standar matematika. Belum berpikir tingkat tinggi. Masih level 2, level tingkat tinggi 4, 5, 6," ujarnya.

Dalam level tingkat tinggi, siswa sudah mampu melakukan interprestasi, mengambil logic, membaca secara kritis. "Kalau ini dibiarkan, sesungguhnya kita telah membekali anak-anak kita untuk keterampilan yang tidak dibutuhkan nanti," ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari indikator karakter atau soft skill pun, kondisi siswa Indonesia masih perlu mendapat perhatian, di antaranya; masih banyaknya siswa mengalami perundungan (41 persen), dan juga pola pikir berkembang yang rendah.

"Ini cermin pendidikan yang seharusnya tidak kita sangkal tetapi kita cari solusinya ke depan," ajak Totok. Ia menegaskan, "warning ini menunjukkan kita perlu melakukan perubahan secara signifikan."

Baca juga: 6 Fakta Menarik Seputar Data Literasi dan Perpustakaan di Rakornas Perpustakaan 2021

Peran literasi baca di masa pandemi

Selain disrupsi digital, kondisi pandemi global Covid-19 semakin menyulitkan kondisi pendidikan Indonesia. Mengutip data Bank Dunia, diperkirakan jika kondisi pandemi lebih panjang 8 bulan maka dikhawatirkan pembelajaran siswa tidak berjalan optimal. 

Selama tahun 2020 Bank Dunia mencatat capaian belajar siswa lewat PJJ hanya sebesar 33 persen jika dibandingkan belajar dari tatap muka. "Ini sebuah penurunan yang dramatis," ungkapnya.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.