Kompas.com - 28/04/2021, 16:36 WIB
Najelaa Shihab, pemerhati pendidikan dan pendiri Keluarga Kita hadir dalam live streaming Instagram @Kompas.com mengangkat tema Strategi Dampingi Anak di Masa Pandemi dan Ramadhan mulai pukul 11.00 WIB. DOK. KELUARGA KITANajelaa Shihab, pemerhati pendidikan dan pendiri Keluarga Kita hadir dalam live streaming Instagram @Kompas.com mengangkat tema Strategi Dampingi Anak di Masa Pandemi dan Ramadhan mulai pukul 11.00 WIB.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu tahun kian membuktikan bahwa proses belajar tidak terbatas di ruang kelas. Pun menghafal dan dengan ukuran angka bukanlah satu-satunya kunci untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi murid hadapi tantangan dan masalah di masa depan.

Sebaliknya, mengembangkan pola pikir kritis, pemecahan masalah serta komunikasi dalam diri murid dapat dilakukan dengan pemberian isu dan masalah dengan pembelajaran bermakna berbasis proyek.

Head of School Sekolah Cikal, Najelaa Shihab mengatakan bahwa proses belajar secara kontekstual dan personalisasi dengan menemukan area ketertarikan proses belajar murid dapat menjadi momen-momen yang membangun kemampuan murid untuk beradaptasi dan memiliki ketangkasan di masa depan.

Baca juga: Belajar dari Orangtua Jepang Cara Menanamkan Disiplin pada Anak

“Proyek murid dan refleksi mereka menjadi pengingat bahwa mereka punya potensi yang akan terus tumbuh di masa remaja. Saya berharap murid-murid dapat senantiasa mengabadikan momen belajar mereka melampaui batas diri sendiri dan sekolah, melainkan untuk komunitas masyarakat," papar Najelaa dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com," Rabu (28/4/2021).

Kepemilikan proses belajar adalah kunci

Pembelajaran bermakna berbasis proyek telah dilakukan oleh Sekolah Cikal Surabaya, melalui kegiatan Personal Project kelas 10 pada 22-23 April 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Sekolah Cikal Surabaya, Hasto Pidekso menyatakan bahwa kegiatan Personal Project adalah puncak dari proses belajar murid kelas 10 Sekolah Cikal Surabaya, dan menjadi tantangan bagi murid untuk memimpin secara mandiri proyek mereka.

“Proyek akhir ini diinisiasi oleh murid dengan tujuan berorientasi pada masyarakat. Proyek ini tentunya merupakan proses belajar yang melampaui batas sekolah, dan diri mereka. Kunci dari menjalankan personal project ini adalah kepemilikan murid terhadap proses belajarnya melalui topik atau isu yang telah dipilih dan dijalankan oleh murid dengan penuh tanggung jawab,” tutur Hasto.

Baca juga: Mengenal Ikigai, Rahasia Etos Kerja Tinggi dan Karier Cemerlang ala Jepang

Ia pun menambahkan bahwa melalui pembelajaran berbasis proyek dan pemecahan masalah, murid benar-benar ditempatkan sebagai pusat dari proses belajar itu sendiri.

“Di proses ini, murid pada akhirnya menjadi pusat dari proses belajar itu sendiri dengan proses riset dengan pemerolehan informasi yang valid, dan tentunya refleksi yang mendalam dalam memecahkan dan menjawab masalah,” tambahnya.

Ciptakan baterai ramah lingkungan hingga hentikan stigma self-harm

Di acara personal proyek tahun ini, enam murid kelas 10 Sekolah Cikal memilih berbagai isu krusial dan bermakna yang penting disadari oleh publik, baik itu Maskulinitas Toksik, Kemiskinan, Inovasi Lingkungan, hingga isu kesehatan mental.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.