Mahendra K Datu
Pekerja corporate research

Pekerja corporate research. Aktivitas penelitiannya mencakup Asia Tenggara. Sejak kembali ke tanah air pada 2003 setelah 10 tahun meninggalkan Indonesia, Mahendra mulai menekuni training korporat untuk bidang Sales, Marketing, Communication, Strategic Management, Competititve Inteligent, dan Negotiation, serta Personal Development.

“Modality” dalam Membangun Masyarakat Informasi

Kompas.com - 12/06/2021, 17:07 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Tak terasa, dan mungkin karena arus masif inisiatif industri smartphone global yang masuk ke Indonesia, asas modalitas yang sama dipakai di Indonesia.

Hari ini anda bisa membeli smartphone full-feature dengan harga di bawah 1 juta rupiah dengan pilihan merek dan model yang beragam.

Dan lucunya, sama seperti yang terjadi di hampir seluruh dunia – pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung setahun lebih justru menyempurnakan penetrasi itu dengan tetap mempertahankan asas modalitas.

Nyaris tak ada inflasi di segmen low end full feature smartphone di Indonesia, bahkan malah cenderung turun harganya.

Masyarakat yang terhubung.

Membangun sebuah komunitas raksasa yang disebut warga negara agar terhubung dengan bank informasi yang tersedia di internet adalah sebuah mandat bagi proses pembangunan masyarakat modern.

Dalam akses informasi global via internet yang ideal, siapapun, di manapun, apapun statusnya, bisa mendapatkan akses informasi yang sama dari seluruh dunia.

Setiap orang bisa belajar apapun, mendapatkan pengetahuan apapun, berjejaring dengan siapapun, dengan biaya per bulan yang kadang tak lebih dari pengeluaran dua kali makan siang di warung.

Indonesia sebagai negara kepulauan perlu infrastruktur internet yang masif, karena hampir dua juta kilometer persegi wilayahnya tidak secara merata terdistribusi infrastruktur internetnya, padahal itu sebuah kebutuhan yang tak terhindarkan, bahkan sifatnya mandatory.

Bandingkan dengan India di akhir tahun 1990-an. Para petani di pelosok-pelosok India sampai berinisiatif iuran untuk mendapatkan akses internet yang masih sangat sederhana dan lamban pada waktu itu, hanya untuk mendapatkan akses harga komoditas pertanian dari Chicago dan London.

Mereka tahu bahwa tanpa informasi real-time, mereka bisa dikerjain tengkulak, atau ditipu oknum-oknum koperasi komunitas.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.