Kompas.com - 30/07/2021, 16:26 WIB
|
Editor Dian Ihsan

Muhammad Novvaliant menyampaikan, jika penyintas Covid-19 sering dibandingkan, maka dapat kehilangan rasa percaya diri yang justru berdampak pada situasi yang semakin memburuk.

2. Mengingkari perasaan negatif yang dirasakan

Jika berlangsung dalam jangka panjang akan membuat individu seperti tidak mengenal dirinya sendiri.

"Mereka akan beranggapan ketika emosi negatif muncul, maka itu bukan bagian dari dirinya," kata Muhammad Novvaliant seperti dikutip dari Instagram UII Yogyakarta, Jumat (30/7/2021).

3. Memunculkan perasaan kehilangan dukungan

Biasanya penyintas Covid-19 yang mendapatkan toxic positivity merasa bahwa dirinya tidak dipahami.

Sehingga muncul perasaan bahwa permasalahan dihadapi sendirian dan membuat mereka semakin merasa berat untuk menjalaninya.

Baca juga: BUMA Buka Lowongan Kerja bagi Lulusan S1-S2, Buruan Daftar

Alasan orang melakukan toxic positivity

1. Kebutuhan psikologis (menonjolkan diri)

Muhammad Novvaliant menambahkan, orang yang melakukan toxic positivity cenderung merasa lebih baik, hebat atau bahkan hanya untuk kebutuhan menyalurkan agresi.

"Kebutuhan yang tidak bisa dikendalikan bisa berakibat kontraproduktif sehingga perlu diregulasi agar tepat penyalurannya," ungkap Muhammad Novvaliant.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.