Kompas.com - 16/09/2021, 20:17 WIB
Sekitar 40 persen wilayah di Jakarta sekarang berada di bawah permukaan laut. (The New York Times) Sekitar 40 persen wilayah di Jakarta sekarang berada di bawah permukaan laut. (The New York Times)
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Joe Biden sempat menyebut proyeksi tentang Jakarta yang diperkirakan bakal tenggelam dalam 10 tahun ke depan.

Pernyataan ini disampaikan dalam pidato sambutan kepada para pemimpin badan intelijen di Amerika Serikat yang salah satu pembahasannya adalah isu perubahan iklim.

Menanggapi hal itu, Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menegaskan, masyarakat harus kritis dalam menanggapi isu ini. Dia menekankan, penurunan muka tanah di Kota Jakarta sebenarnya sudah terjadi sejak 1997.

Hasil ini didapat dengan melakukan pemodelan penurunan muka tanah menggunakan teknologi LIDAR (Light Detection and Ranging).

Baca juga: Rekomendasi 3 Sekolah Kedinasan bagi Siswa IPS

Ada penurunan tanah di Jakarta

Selain LIDAR ada juga data dari tahun 2007 hingga 2018 yang disajikan melalui fleet InSAR, terlihat memang ada penurunan tanah di beberapa daerah. Bahkan ada yang mencapai 20 cm per tahun.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir terlihat pengurangan laju penurunan muka tanah. Heri Andreas menyampaikan, dengan menambahkan kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah terhadap topografi, bisa diketahui wilayah mana yang berpotensi berada di bawah permukaan laut per satuan waktu.

Pada tahun 2012 dibuat skenario penurunan muka tanah dan diperoleh hasil bahwa potensi tenggelamnya Jakarta mencapai 31 persen. Setelah skenario tersebut diperbarui terdapat penurunan potensi menjadi 28 persen.

"Ini memang terlihat berkurang, tetapi potensinya masih ada," tandas Heri.

Baca juga: Cermati 5 Hal Ini Jika Ingin Kuliah di Singapura

14 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah laut

Tentu saja topografi ini sifatnya dinamis sehingga akan terus diperbarui. Dari data model perbaruan terakhir, terlihat bahwa 9.000 hektare lahan sudah berada di bawah permukaan laut. Namun di lapangan tetap kering karena adanya proses tanggul laut dan tanggul sungai.

Pada tahun ini, 14 persen wilayah Jakarta sudah berada di bawah laut dan diperkirakan akan menjadi 28 persen pada tahun 2050.

Beberapa tempat seperti Muara Baru sudah turun sejauh 1 meter. Hal ini perlu diperhatikan karena akan terus bertambah jika terus diabaikan.

"Jika usaha kita tidak maksimal, maka pada tahun 2050 penurunannya akan mencapai 4 meter," ujar Heri.

Baca juga: Mendikbud Ristek Tegaskan 8 Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi

Perlu monitoring dan early warning

Andreas dan tim membuat model potensi bahwa jika hanya dipengaruhi oleh kenaikan muka laut, maka hanya 292 hektare lahan saja yang akan tergenang dan tenggelam. Namun, jika ditambah pengaruh penurunan muka tanah, maka akan bertambah menjadi 9.000 hektare.

Selain kedua hal tersebut, perubahan iklim di pesisir bisa membuat 16.000 hektare lahan terendam.

"Untuk mencegah atau membuat Jakarta tidak tenggelam, perlu dilakukan monitoring dan early warning, menentukan faktor penyebab, serta memetakan risiko bencana dengan lebih pasti," tutur dia.

Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan pembuatan tanggul, pembuatan pompa, serta mencari alternatif air tanah karena eksploitasi air tanah menyebabkan penurunan muka tanah.

Baca juga: Astra Buka Program Human Capital Trainee 2022 bagi Lulusan S1

Andreas mengungkapkan, ilmu geodesi dan geomatika bertanggung jawab dalam menganalisis risiko bencana. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir hingga paranoid.

"Jakarta tenggelam adalah clickbait bahasa media, tidak perlu khawatir, Jakarta memang berpotensi tenggelam tetapi tidak akan tenggelam," tutup Andreas.

Masalah di Jakarta adalah banjir

Sementara itu Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Wilayah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agustan menyampaikan, sebagai seorang saintis harus harus kritis, mempertanyakan, meneliti serta membuktikan sendiri pernyataan dari Joe Biden.

Agustan menerangkan, masalah utama yang terjadi di Jakarta adalah banjir. Hal ini disebabkan beberapa hal seperti penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut.

Penyebab ini diidentifikasi melalui beberapa penelitian yang menggunakan satelit seperti altimetri.

"Pada tahun 2010 dilakukan kerja sama antara BPPT dan Geodesi ITB untuk mengolah data altimetri. Hasilnya ditemukan bahwa ada fenomena kenaikan muka laut," kata Agustan.

Baca juga: Intip 3 Universitas Termegah Dunia

Agustan mengungkapkan, untuk mengamati penurunan muka tanah digunakan teknologi InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar). Pengamatan ini dilakukan dalam rentang 2014 hingga 2020 dan terlihat bahwa setiap tahun terdapat perbedaan hasil pengamatan yang menunjukkan penurunan muka tanah.

"Jakarta tidak akan tenggelam, melainkan tergenang," beber Agustan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.