Kompas.com - 22/09/2021, 07:00 WIB
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) membantu warga Sangup, Musuk, Boyolali dalam program pemberdayaan pembuatan pakan ternak melalui penerapan teknologi tepat guna. Tangkap layar laman unnes.ac.id.Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) membantu warga Sangup, Musuk, Boyolali dalam program pemberdayaan pembuatan pakan ternak melalui penerapan teknologi tepat guna.
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Banyak penemuan-penemuan dari akademisi di perguruan tinggi yang bisa menjadi solusi permasalahan di tengah masyarakat.

Inovasi dan ide dari akademisi ini menjadi bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi untuk turut memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat.

Seperti yang dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang tergabung dalam tim Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Matamatika dan Pengetahuan Alam (FMIPA).

Mereka membantu warga Sangup, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah dalam program pemberdayaan pembuatan pakan ternak melalui penerapan teknologi tepat guna.

Saat bencana alam erupsi Gunung Merapi tahun 2010 silam desa ini turut terdampak.

Baca juga: Pertamina Lubricants Buka Lowongan Kerja Lulusan D3, Buruan Daftar

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mahasiswa Unnes beri solusi krisis pakan ternak

Warga desa Sangup sebagian besar bekerja sebagai petani. Namun beberapa warganya juga memelihara hewan ternak seperti sapi, kambing, dan burung puyuh.

Adanya hujan abu vulkanik saat terjadi erupsi Merapi yang mengguyur desa ini, warga sekitar kesulitan mencari rumput untuk pakan ternaknya.

Hal ini disebabkan sebagian besar rumput yang biasa digunakan untuk pakan ternak tertutup abu vulkanik.

Kondisi ini menyebabkan adanya krisis pakan ternak terlebih saat erupsi Merapi.

"Tujuan dari program ini adalah untuk mengatasi permasalahan yang ada di Desa Sangup. Selain itu kami juga ingin memberikan manfaat dalam bidang sosial ekonomi," kata Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FMIPA Unnes, Parmin seperti dikutip dari laman resmi Unnes, Selasa (21/9/2021).

Baca juga: ITS Terapkan Kuliah Hybrid, Mahasiswa Angkatan 2020-2021 Bisa Ikut

Praktik membuat pakan ternak alternatif

Menurut Parmin, pakan ternak yang dihasilkan tersebut tidak hanya untuk persediaan saja. Tetapi dapat digunakan sebagai produk bernilai ekonomi.

Tim Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) BEM FMIPA Unnes dinisiasi 15 mahasiswa dan satu dosen pendamping.

Program ini dilakukan bersama dengan Kelompok Tani Mudi Makmur desa Sangup.

"Dalam program ini, kami praktik pembuatan pakan ternak alternatif berupa pelet," tandas Parmin.

Bahan pokok yang digunakan dalam pembuatan pelet tersebut ialah 95 persen Hijauan Pakan Ternak (HPT).

Baca juga: Punya IPK 2,69, Bagus Muljadi Jadi Asisten Profesor Termuda di Inggris

Bahan yang digunakan

Pemilihan bahan dasar tersebut disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya alam yang ada di desa. Sehingga bisa meminimalisir biaya yang diperlukan.

"HPT berupa rerumputan yang telah dicacah dicampur dengan bahan tambahan berupa cairan seperti vitamin, ragi, dan probiotik sebanyak 2 persen," ungkap Parmin.

Selain itu, ditambahkan 5 hingga 6 persen tepung tapioka.

Bahan yang digunakan tersebut sudah difermentasikan terlebih dahulu 5 hari sebelumnya yang kemudian diubah menjadi pelet sebagai pakan ternak alternatif.

Dalam prosesnya, pembuatan pelet tersebut menggunakan mesin pembuat pelet sebagai bagian dari aplikasi teknologi tepat guna.

Baca juga: Mahasiswa, Manfaatkan 5 Channel YouTube Ini untuk Belajar TOEFL

Produksi pelet untuk dijual kembali

Kegiatan PHP2D ini dijalankan dalam kurun waktu 5 bulan, mulai dari Juli-November 2021.

Kegiatan yang telah terlaksana dalam program ini sampai awal September diantaranya pembekalan terhadap tim PHP2D.

"Sosialisasi program dengan perangkat desa, koordinasi dengan dinas terkait, serta sosialisasi pembuatan pelet," jelasnya.

Selain sosialisasi, pelatihan dan pendampingan pembuatan pakan ternak, dalam program ini juga dilakukan kegiatan lainnya.

Antara lain pelatihan pembuatan hand sanitizer, sosialisasi kebiasaan baru serta penyuluhan kewirausahaan melalui penjulan hasil produksi dari pelet.

Baca juga: 3 Universitas Berkualitas dan Terjangkau di Singapura

Ketua Tim PHP2D, Mohammad Qois menambahkan, kehadiran BEM FMIPA Unnes di Desa Sangup ini diharapkan mampu memberikan semangat baru bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.