Kompas.com - 10/12/2021, 15:37 WIB

“Johns Hopkins University sangat mendukung diterapkannya integrasi antara teori dan praktik sehingga setiap sesi perkuliahan dapat mencapai tujuan pembelajaran,” terang Sarah.

Dirinya juga memperkenalkan program Development, Climate, and Sustainability (DCS) di kampusnya yang fokus pada isu-isu tentang pertumbuhan, penurunan kemiskinan, energi, lingkungan, dan perubahan iklim.

Ia juga mengungkapkan jika terdapat banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat dalam riset-riset dan publikasi. Terkait dengan kerja sama riset, keduanya kompak mengatakan jika kesempatan itu terbuka lebar.

Baca juga: Kuliah S2 Gratis di 7 Universitas Jepang 2023, Tunjangan Rp 22 Juta Per Bulan

“Saya akan senang untuk berbicara lebih banyak dengan siapa saja yang tertarik untuk membangun koneksi yang lebih luas, kami juga memiliki pusat energi baru yang dijalankan oleh Fakultas Teknik. Jadi kami memiliki banyak hibah dan inisiatif-inisiatif baru di sana jika Anda tertarik pada bidang energi dan lingkungan, dalam hal keanekaragaman hayati,” tutur Sarah.

Popy, secara spesifik berharap jika universitas di Indonesia dapat menjalin kerja sama dengan kedua universitas tersebut.

“Saya tertarik pada pembelajaran hibrida yang Johns Hopkins University tawarkan di program pengembangan hubungan internasional mengingat perubahan iklim merupakan salah satu isu penting dan sedang banyak dibicarakan saat ini baik di kancah global,” tutur Popy.

Riset mahasiswa Indonesia di luar negeri terkait isu lingkungan

Onny N. Maryana, salah satu Penerima Beasiswa LPDP berkesempatan memaparkan risetnya mengenai Environmental DNA (eDNA), salah satu topik yang sedang banyak dibicarakan saat ini.

Untuk melakukan riset ini, tuturnya, ia menggunakan DNA metabarcoding. Konsep dasar dari pendekatan ini adalah peneliti mengumpulkan semua sampel yang berasal dari lingkungan yang terdiri dari beragam organisme.

Baca juga: Daftar Beasiswa Penuh S1 Luar Negeri 2022, Deadline Desember-Januari

“Kita ekstrak material genetiknya, kita amplifikasi, lalu kita sequence untuk mendapatkan basa nitrogen, lalu kita visualisasikan hingga kita bisa mendapatkan gambaran keanekaragaman hayatinya,” tambah Onny.

Onny, kandidat doktor dari UCL, memaparkan bahwa eDNA dapat digunakan untuk mengetahui keanekaragaman hayati di laut hanya dengan mengumpulkan 1 liter air. Bahkan, metode ini bisa dipakai untuk melihat ekosistem purba.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.