Kompas.com - 06/01/2022, 19:13 WIB
Ilustrasi anak berkebutuhan khusus sedang belajar dari rumah. DOK. PEXELSIlustrasi anak berkebutuhan khusus sedang belajar dari rumah.

KOMPAS.com - Mengasah kemandirian anak berkebutuhan khusus bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan memahami pola-pola belajar yang tepat, dapat membuat prosesnya berjalan lebih lancar.

Menurut Muthia Devita, tim program Pendidikan Inklusi Cikal Surabaya, terdapat 3 pola pengaturan belajar yang tepat dalam akomodasi belajar bagi anak berkebutuhan khusus yang harus diketahui oleh orangtua.

Muthia mengatakan, pola ini telah diterapkan di Sekolah Cikal dari tingkat Prasekolah hingga SMA.

1. Individual

Pola pengaturan belajar pertama bagi anak berkebutuhan khusus yang diterapkan adalah dengan pola one-on-one atau individu sebagai langkah melatih ketahanan dan fokus.

Baca juga: Psikolog: Cara Merancang Program Belajar Anak Berkebutuhan Khusus

“Pengaturan kelompok belajar pertama adalah one-on-one. Pola ini diperuntukkan bagi anak dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan pembelajaran individu untuk melatih ketahanan dan atensi fokusnya,” tutur Muthia dalam keterangan tertulis.

2. Kelompok Kecil

Tahap kedua pola pengaturan belajar bagi anak berkebutuhan khusus adalah dengan pola kelompok kecil.

“Pengaturan kelompok belajar kedua adalah kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang murid per kelas. Di pola ini cara pemberian instruksi, bentuk tugas, dan materi belajar akan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak,” ucapnya.

3. Kelompok Besar

Pola ketiga adalah kelompok besar. Anak dengan kebutuhan khusus diikutsertakan di kelas besar, namun tetap memperoleh pendampingan yang personal.

Baca juga: Orangtua, Ini Dampak Bila Sering Memarahi Anak Saat Belajar

“Untuk melatih kemandirian anak berkebutuhan khusus di kelas besar, kami menerapkan akomodasi belajar dimulai dari cara pemberian instruksi, bentuk tugas dan materi belajar yang lebih konseptual, dan lekat dengan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Dalam kelompok kecil dan kelompok besar, beberapa refleksi kegiatan yang dijalankan bagi anak-anak berkebutuhan khusus antara lain, guest speaker dan field trip.

Muthia menekankan, penerapan pola ini harus disesuaikan dengan target pembelajaran dan pengembangan diri murid, serta terdapat pula diskusi hingga evaluasi yang berkelanjutan.

“Setiap murid memiliki target masing-masing di personalized curriculum circle, untuk berjalan sinkron di sekolah dan di rumah. Sehingga dalam hal ini, komunikasi dengan psikolog, terapis, serta orang tua berperan penting dalam mengetahui perkembangan anak di rumah. Kami juga menghadirkan pertemuan menjelaskan kemajuan dan evaluasi yang berkelanjutan bersama orang tua secara berkala, serta diskusi kebutuhan strategi pembelajaran untuk siklus programnya,” tutup Muthia.

Baca juga: Belajar dari Orangtua Jepang Cara Menanamkan Disiplin pada Anak

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.