Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/11/2022, 10:59 WIB

“Bagaimana sih kamu, sudah dikursuskan mahal-mahal, nilai matematikanya tetap saja merah?”. “Lihat, tuh, adik kamu, tidak ikut kursus tetapi nilainya bagus”. Atau “Mama gak mau kasih kamu pulsa telepon kalau nilaimu jelek.”

Dari ketiga contoh tersebut, orangtua cenderung berorientasi pada hasil, tidak berusaha mencari tahu apakah anaknya mempunyai masalah dengan prestasinya. Mungkin mereka mempunyai hambatan dengan guru atau teman sekolah.

Atau mungkin ia dinilai “berbeda” oleh lingkungannya, misal dalam hal berpakaian, berkomunikasi, gaya rambut dan sebagainya. Hal-hal tersebut bisa menyebabkan gangguan emosi seperti perasaan tidak berarti, minder, mudah marah, frustasi dan sebagainya.

"Hal ini tidak hanya terjadi di dunia pendidikan. Di perusahaan atau instansi contoh-contoh seperti pada anak-anak tersebut sangat mungkin terjadi. Seorang teman yang juga psikolog membagikan pengalamannya ketika mendampingi karyawan di suatu perusahaan BUMD," ucap Unggul.

Tanpa menyebutkan identitas klien dan perusahaannya, sang psikolog bercerita bahwa kliennya menjadi minder karena body shaming di lingkungan kerja. Klien tersebut menjadi depresi dan memilih untuk mengurung diri. Kondisi tersebut berpengaruh pada hasil performance appraisal-nya.

Baca juga: Mengapa Pasangan Selingkuh? Tim Peneliti Ungkap 8 Penyebab

Pelatihan yang diharapkan bisa meningkatkan kompetensinya, ternyata juga tidak banyak membantu.

Oleh bagian SDM dia dipanggil untuk memperoleh feedback dan akhirnya dipindahkan dari fungsinya yang sekarang ke tempat yang baru, dengan harapan akan menemukan situasi dan lingkungan baru.

Namun, masalah yang sama juga tetap terjadi, tidak ada perbaikan sama sekali. Bahkan atasannya tidak memberikan dia pekerjaan, karena dianggap akan mengganggu kinerja dan ritme fungsi barunya.

Kepada psikolog yang merupakan orang di luar organisasi, dia menceritakan masalahnya. Dia mengeluarkan uneg-unegnya kepada psikolog sambil menangis, dia bahkan pernah mengatakan ingin mati.

Dia menyeberang jalan yang ramai tanpa melihat ke kiri dan kanan, dengan harapan ada bus atau mobil yang menabraknya. Dia juga mengatakan lebih baik resign daripada menerima bully berupa body shaming dari teman-temannya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+