Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal Halaman 3 - Kompas.com

Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal

Perhimpunan Pelajar Indonesia
Kompas.com - 10/10/2017, 17:37 WIB
Relawan mendampingi anak-anak menulis proses mencapai cita-citanya di sekolah alam Kampung Batara di Papring, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (24/9). Kegiatan edukasi tersebut bertujuan untuk memperkuat literasi pada anak-anak sekolah alam yang terletak di pinggir hutan produksi perhutani. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc/17.BUDI CANDRA SETYA Relawan mendampingi anak-anak menulis proses mencapai cita-citanya di sekolah alam Kampung Batara di Papring, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (24/9). Kegiatan edukasi tersebut bertujuan untuk memperkuat literasi pada anak-anak sekolah alam yang terletak di pinggir hutan produksi perhutani. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc/17.

Mungkin sudut pandang yang berkembang di masyarakat juga tidak lepas dari pemberitaan media. Sebab, tidak semua penulisnya mengerti apa yang dimaksud dengan pendidikan kesetaraan.

Saya sempat menemukan berita tentang seorang artis yang diberitakan mengikuti ujian kejar paket karena tak lulus UN. Padahal, artis tersebut menjalani homeschooling yang menjadi salah satu metode pendidikan informal.

Jadi, pembaca tidak boleh menelah sebuah berita mentah-mentah. Pembaca juga harus berpikir kritis apalagi bila berita yang ditampilkan tidak cover both side (konfirmasi kedua pihak).

Anak istimewa pilih pendidikan informal

Sebenarnya, tanpa kita tahu, banyak peserta didik istimewa yang memilih pendidikan informal. Istimewa maksudnya mereka bisa menyelesaikan materi pelajaran tiga tahun menjadi satu tahun saja.

Di pendidikan formal, kita biasa mengenal kelas akselerasi untuk anak istimewa. Namun, pendidikan kesetaraan belum mengenal istilah ini.

Peserta didik istimewa dengan pendidikan informal sebenarnya bisa mengikuti placement test untuk membuktikan dia layak mengikuti UNPK lebih cepat. Hanya saja, placement test hanya bisa dilakukan di Jakarta.

Bisa dibayangkan bila pemerintah terus mengembangkan fasilitas untuk pendidikan kesetaraan. Jalur pendidikan nonformal bakal menghasilkan lulusan-lulusan muda yang siap melanjutkan ke perguruan tinggi.

Yang lebih penting lagi, mereka adalah peserta didik yang paham dengan potensi dan cita-citanya yang murni. Bukan dengan pilihan yang menjadi desakan atau bentukan pemikiran kaum mayoritas.

Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM