“Batman Effect” Membuat Anak Antusias Membantu Orangtua?

Kompas.com - 03/09/2018, 21:40 WIB
Leonard Robinson sengaja berperan sebagai Batman untuk mengunjungi anak-anak di rumah sakit. Dia telah melakoni peran tersebut selama 14 tahun terakhir. BBCLeonard Robinson sengaja berperan sebagai Batman untuk mengunjungi anak-anak di rumah sakit. Dia telah melakoni peran tersebut selama 14 tahun terakhir.

KOMPAS.com - Sebagian besar kita pasti tahu, terutama orangtua muda yang anak atau keponakannya sudah mulai sekolah, susahnya meminta anak mandi sendiri atau menyiapkan baju sendiri.

Apalagi diminta melakukan tugas-tugas rumah membosankan seperti bantu cuci piring, menyapu kamar, minimal piring makan atau kamar sendiri.

Anak saya sendiri, 6 tahun lebih sedikit, suatu kali saya minta melipat mukenanya sehabis sholat. Alasannya macam-macam; sudah ngantuk, perut mules, baru menemani adik, atau sedang merapikan buku.

Intinya malas melipat mukena, lebih baik digulung sekenanya, lalu dilempar ke lemari. Hal ini membuat saya atau bundanya gregetan lalu harus pasang tampang galak supaya patuh.

1. "Aku pahlawan super!"

Suatu kali saya sekeluarga sedang jalan-jalan di akhir minggu. Kami makan di sebuah restoran
cepat saji. Anak saya mendapat mainan. Sebuah ikat kepala Wonder Woman dari plastik. Dia senang sekali memakainya dan tidak berhenti meneriaki semua orang dalam mobil, “Aku pahlawan super!"

“Ayah, aku pahlawan super, lihat sini dong Yah!” Baju saya ditarik-tarik dari belakang. Mau tidak mau saya harus merespon, “Iya, iya ini ayah baru nyetir.” Nampaknya jawaban datar campur panik ini tidak membuatnya kecewa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Malah sebaliknya. Waktu di supermarket saya diberondong pertanyaan, “Yah, pahlawan super itu baik ya, Yah?” Belum sempat saya jawab, sudah bertanya lagi “Yah pahlawan super itu harus membantu orang lain, Ayah mau aku bantu apa?”

Lalu dia jawab sendiri “Aku bantu dorong troli ya Yah, sini aku aja yang dorong!” Meski sewaktu troli mulai terasa berat lalu dia kembalikan lagi ke saya, tapi lumayan. Biasanya dia sama sekali tidak mau mendorong troli. Maunya masuk dalam troli dan minta didorong.

2. Penelitian "Batman Effect"

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan kejadian tadi. Sampai kemudian saya membaca
sebuah laporan penelitian di jurnal Child Development edisi Desember 2016.

Penelitian ini unik karena ternyata perilaku heboh anak saya yang memakai ikat kepala Wonder Woman ini mirip dengan yang disebut dengan “Batman Effect”. "Efek Batman", si pahlawan super, si manusia kelelawar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X