Program Pintar
Praktik baik dan gagasan pendidikan

Kolom berbagi praktik baik dan gagasan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Kolom ini didukung oleh Tanoto Foundation dan dipersembahkan dari dan untuk para penggerak pendidikan, baik guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dosen, dan pemangku kepentingan lain, dalam dunia pendidikan untuk saling menginspirasi.

100 Hari Nadiem Makarim: Kampus Merdeka, Upaya Melepas "Kacamata Kuda" Mahasiswa

Kompas.com - 30/01/2020, 10:11 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Di sisi lain, para pelaku dunia kerja juga seringkali dihadapkan pada inefisiensi proses penanganan masalah yang cenderung reinventing the wheel, atau mengerjakan segala sesuatu dari awal karena kurangnya referensi.

Padahal, apabila dunia kerja dapat memanfaatkan wawasan tentang teori-teori yang ada–yang dipelajari di perguruan tinggi–maka penanganan masalah pun akan lebih efektif dan efisien, berlandaskan teori yang sudah teruji.

Belajar di "dunia nyata"

Oleh karena itu, yang paling ideal adalah lulusan memiliki kapasitas untuk mampu secara akrobatik dan merdeka memanfaatkan pengetahuan teoritis yang ada untuk menyelesaikan masalah-masalah riil di lapangan.

Kapasitas seperti ini hanya mungkin berkembang bila mahasiswa diberi kesempatan untuk mengambil SKS di luar perguruan tingginya, melalui beragam kegiatan dan proyek yang mendukung experiential learning, termasuk dari dunia industri, agar sejak dini mahasiswa sudah terbiasa memiliki kemampuan problem-solving yang strategis dengan mengaitkan teori dan masalah riil.

Seringkali, para pelaku dunia kerja mengeluhkan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki kapasitas penalaran dan keterbukaan berpikir yang menggambarkan kematangan intelektual.

Hal ini salah satunya disebabkan oleh mobilitas keilmuan yang terbatas, di mana kapasitas penalaran tidak berkembang karena kurangnya wawasan tentang pengetahuan lain di luar bidang ilmu yang ditekuni.

Padahal semakin banyak wawasan pengetahuan tentang bidang ilmu lain, akan semakin mudah pula mahasiswa menguasai dan mengembangkan bidang ilmu yang ditekuni.

Membuka "kacamata kuda"

Mobilitas keilmuan yang terbatas juga menjadi sebab tidak dimilikinya keterbukaan berpikir. Mahasiswa yang kurang terekspos akan bidang ilmu lain cenderung melihat masalah dengan kacamata kuda, sehingga timbul keyakinan bahwa beberapa bidang ilmu terkesan tidak memberi kontribusi yang signifikan terhadap kehidupan.

Bidang ilmu sastra, misalnya, seringkali disepelekan karena dianggap hanya mempelajari bahasa baru. Namun, bila ditelisik lebih dalam, sastra akan sangat bermanfaat untuk memahami sejarah, sosiologi, dan politik suatu bangsa.

Seorang mahasiswa tidak akan mampu memahami sejarah perbudakan dan perang sipil di Amerika secara intens apabila tidak membaca kegetiran pengalaman hidup manusia yang tergambar pada karya-karya sastra periode tersebut.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.