Menjadi Manusia Waskita: Mari Kita Bicara tentang Kehilangan (Bagian II)

Kompas.com - 22/02/2020, 16:02 WIB
Ilustrasi kesunyian ISTOCKPHOTO/ANTONIGUILLEMIlustrasi kesunyian

Tulisan ini merupakan Bagian II atau bagian akhir dari dua serial tulisan. Baca sebelumnya Bagian I: Menjadi Manusia Waskita. 

BAGIAN ini kami hadiahkan bagi para jomblowan-jomblowati, dan siapa saja yang berulang kali patah hati.

Sebagian besar manusia kerap kali bermasalah dengan soal sesuatu yang hilang dalam perjalanan hidupnya.

Bisa berupa harta benda, harga diri, kehormatan, kesucian, dan yang paling merepotkan: berpisah dengan sosok tercinta dalam jangka waktu tertentu—atau selamanya.

Seperti ucapan Asmuni yang legendaris, “Yuk kita selikidi….”

Kehilangan itu bermuara dari adanya kepemilikan. Lebih sering tertanam dalam pikiran.

Pada soal yang lain, mendekam di perasaan. Masing-masingnya mengandung dampak berbeda, namun sama dalam satu hal—ketidakterimaan.

Jika kehilangan itu tersangkut dalam pikiran, keadaan yang terjadi adalah kemrungsung. Lalu berubah jadi rungsing. Ujungnya muncul suasana tidak tenang.

Bilamana berkenaan dengan perasaan, turunan yang ditimbulkan adalah kehampaan. Semacam ada yang telah pergi tapi meninggalkan bekasan.

Sadarilah, duhai sedulur terkasih, sejatinya kita tak pernah sungguh benar kehilangan. Sebab, jika memang benar hilang, harusnya rasa itu tak lagi ada jejaknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X