Ibunda Jokowi Sujiatmi Notomiharjo dan Warisan Nilai Mendidik Keluarga

Kompas.com - 26/03/2020, 15:10 WIB
[ARSIP FOTO] Ibunda Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo mengikuti peluncuran buku anaknya yang berjudul Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar di Jakarta, Jumat (14/9/2012). Ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo meninggal dunia di Solo pada Rabu, 25 Maret 2020 pukul 16:45 WIB. ANTARA FOTO/DHONI SETIAWAN[ARSIP FOTO] Ibunda Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo mengikuti peluncuran buku anaknya yang berjudul Jokowi, Spirit Bantaran Kali Anyar di Jakarta, Jumat (14/9/2012). Ibu Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo meninggal dunia di Solo pada Rabu, 25 Maret 2020 pukul 16:45 WIB.

KOMPAS.com - Di tengah perjuangan menghadapi krisis bangsa karena pandemi virus corona, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali berduka. Sang ibunda, Sujiatmi Notomiharjo, harus berpulang ke sisi-Nya pada pada Rabu (25/3/2020).

Sujiatmi meninggal dunia dalam usia 77 tahun. Ia merupakan anak bungsu dan perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara pasangan Wirorejo dan Sani. Ia merupakan seorang ibu yang sukses melahirkan seorang pemimpin bangsa dengan nilai kerja keras, kesederhanaan hingga kejujuran.

Merangkum dari lama Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), inilah nilai-nilai yang diterapkan Sujiatmi dalam mendidik anak-anaknya.

Kejujuran dan kesederhanan

Kala ditanya apa resepnya dalam mendidik anak-anak, Sujiatmi mengatakan kejujuran dan ojo milik (tidak tergiur memiliki) menjadi nilai utama yang ditekankan kepada semua anaknya, termasuk kepada Jokowi sang anak sulung.

Baca juga: 3 Syarat Pendidikan Karakter Berjalan Efektif

"Yang penting, mendidik anak itu harus jujur di segala bidang. Ojo milik punya orang lain yang bukan hakmu. Dari kecil, anak-anak saya didik yang bukan hakmu jangan kamu ambil. Jangan seneng punya orang lain,” kata Sujiatmi dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Hingga Jokowi terpilih menjadi Wali Kota Solo dan menjabat sebagai Presiden RI, Sujiatmi selalu berpesan untuk selalu amanah.

"Sepuluh tahun kok naik pangkat tiga kali. Kamu harus bersyukur jangan menggak-menggok (beoak-belok), lurus saja. Jangan aneh-aneh diberi amanah sama rakyat, sama Allah. Dijalankan dengan baik," kata Sujiatmi kala itu.

Baca juga: Tanamkan Budi Pekerti, Bacakan 5 Dongeng Tradisional ini Sejak Dini

Selama mendidik anak-anak, Sujiatmi juga tak gampang menjanjikan sesuatu. Tidak ada janji hadiah kenaikan kelas, juga tidak ada iming-iming sesuatu agar anak-anaknya berhenti menangis.

Disiplin dan bersyukur

Disiplin juga menjadi salah satu nilai yang diajarkan Sujiatmi kepada anak-anaknya. Rukun dan saling membantu adalah kunci Sujiatmi menyatukan keempat anaknya dalam satu ikatan persaudaraan yang kuat.

Anak yang berkecukupan, kata Sujiatmi, harus membantu saudaranya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X