Hardiknas, Pandemi Corona, dan Belajar dari Pendidikan Finlandia

Kompas.com - 02/05/2020, 20:24 WIB
Sistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah. DOK. KPG/DELLA YULIASistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah.

Oleh: Silvi, Penerbit KPG

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) mencanangkan program "Belajar dari Rumah" dan menayangkannya di saluran televisi pemerintah, TVRI setiap hari sejak pandemi covid-19 mengharuskan semua anak “sekolah” di rumah.

Ini berarti untuk bisa bertukar materi pelajaran, setiap keluarga harus memiliki minimal satu televisi dan sambungan listrik memadai.

Di Ibukota dan kota besar lainnya di Indonesia, sekolah-sekolah mengandalkan jaringan internet untuk tetap menjalankan kegiatan belajar-mengajarnya.

Namun bagaimana dengan anak-anak di pelosok, yang tanpa adanya wabah korona pun, sudah menggantungkan hidupnya di seutas tali yang terbentang di atas sungai, berjalan puluhan kilometer, mendaki gunung, lewati lembah, agar tiba di sekolah?

Apakah mereka bisa belajar dari rumah melalui televisi, bahkan internet, sementara akses telekomunikasi dan listrik pun tak sampai?

Pendidikan untuk semua

Hari ini 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari kelahiran Menteri Pendidikan dalam kabinet pertama Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, demikian nama lahirnya, terkenal sebagai penggagas “Taman Siswa”.

Baca juga: Kisah Getir dari Guru Kunjung pada Hari Pendidikan Nasional Kita

 

Gagasan belajar yang disebut Ki Suratman dalam kata pengantar di buku "Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa" (KPG & Balai Pustaka, 2019) karya Kenji Tsuchiya.

Gagasan belajar ini mengedepankan demokrasi yang bersendi kekeluargaan, hak asasi manusia diakui kehadirannya, namun tidak boleh dominan demi terwujudnya tertib-damai kehidupan bersama.

Kenji menulis sejak bab awal, kata kunci dari gerakan Taman Siswa Ki Hadjar adalah kebijaksanaan untuk mewujudkan keadilan. Gagasan yang bagus. Sayangnya hingga 75 tahun kemerdekaan RI, sistem pendidikan kita masih banyak yang perlu dibenahi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X