Hardiknas, Pandemi Corona, dan Belajar dari Pendidikan Finlandia

Kompas.com - 02/05/2020, 20:24 WIB
Sistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah. DOK. KPG/DELLA YULIASistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah.

Sebagai refleksi Hari Pendidikan Nasional di tengah pandemi SARS-CoV 2, barangkali kita bisa berkaca dari negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, Finlandia.

Negara yang dinobatkan Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan untuk PBB (Sustainable Development Solutions Network for the United Nations) sebagai negara paling bahagia di dunia itu menjadikan pendidikan sebagai jantung kehidupan berbangsa dan bernegaranya.

Finlandia punya filosofi, pelajaran seumur hidup (lifelong learning). Di mana sejak pendidikan dasar, setiap anak dibekali dengan pengetahuan umum, keterampilan, dan sikap atau perilaku yang memampukannya untuk bertahan hidup menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

8 kompetensi kunci

Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah, menyebutkan dalam bukunya "Sistem Pendidikan Finlandia" (KPG, 2019) ada delapan kompetensi kunci yang harus diberikan dan hendaknya dicapai dalam pendidikan.

Tujuannya, siswa di masa mendatang hidup bahagia dan menjadi warga negara baik.

Kedelapan kompetensi terseburt di antaranya: (1) belajar untuk belajar; (2) mampu berkomunikasi dalam bahasa ibu; (3) mampu berkomunikasi dalam bahasa asing; 4) kompetensi di bidang sosial dan sipil; 5) kesadaran akan budaya dan ekspresinya; 6) keterampilan digital; 7) kompetensi matematika dan ilmu dasar teknologi, dan 8) rasa untuk terus berinisiatif dan kreatif. (hlm. 44)

“Kemampuan belajar untuk belajar ini memampukan orang Finlandia bangkit dari kegagalan,” terang Ratih saat live streaming “Buka Buku KPG” di Youtube baru-baru ini.

Baca juga: Merayakan Hardiknas di Tengah Pandemi, Langkah Para Guru demi Secercah Ilmu...

 

Misalnya, dalam perjalanan hidup seseorang merasa mengambil bidang pekerjaan yang keliru, ia tak perlu malu memutar haluan dengan kembali ke bangku pendidikan.

Apalagi di Finlandia, setiap profesi wajib memiliki sertifikasi dan tingkat pendidikan linear yang mumpuni.

Sopir bus tidak hanya dicari yang bisa menyetir, ia juga harus mengikuti kursus menjadi sopir bus sekitar dua tahun.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X