Hardiknas, Pandemi Corona, dan Belajar dari Pendidikan Finlandia

Kompas.com - 02/05/2020, 20:24 WIB
Sistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah. DOK. KPG/DELLA YULIASistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah.

“Aspek yang diajarkan tidak hanya cara menyetir bus yang aman dan tertib di jalan, namun juga berhitung atau ilmu akuntansi dasar, ilmu umum tentang mesin bus, mesin penghitung uang (kassa), juga printer dan alat-alat elektronik yang tersedia di dalam bus, bahkan ilmu pelayanan pelanggan,” urai Ratih (hlm.10).

Pendidikan menjadi budaya

Jadi setiap profesi sangat dihargai karena kualitas dan kompetensinya di Finlandia. Utamanya guru.

“Posisi guru amat dihargai karena mereka terdidik dan mendidik generasi mendatang.” (hlm. 37) Apalagi kualifikasi menjadi guru di Finlandia terbilang berat. “Guru di Finlandia memiliki pendidikan minimal tingkat master atau S2.”

Pendapatan guru pun melebihi standar gaji rata-rata penduduk Finlandia pada umumnya.

Tentu saja, kata Ratih, pendidikan adalah bagian dari budaya. Tidak ada satupun sistem pendidikan di suatu negara yang dapat ditiru mentah-mentah oleh negara lain.

Finlandia berbanding Indonesia, misalnya, punya jenis dan jumlah penduduk yang berbeda sekali. Masyarakat Finlandia cenderung homogen, sedangkan Indonesia sangat majemuk. Populasi Finlandia hanya 5,5 juta jiwa. Indonesia dihuni lebih dari 270 juta orang.

Dari segi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, Finlandia juga lebih tinggi.

Ambil contoh ketika pemerintah mengimbau masyarakatnya untuk tinggal di rumah, mengurangi aktivitas di luar untuk mengantisipasi penyebaran virus corona, 70 persen warganya patuh. Serentak terkendali.

Sistem kepercayaan ini juga ditanamkan sejak pendidikan dasar. Guru dan orangtua memberikan kebebasan memilih kepada anak.

Baca juga: Pada Hardiknas 2018, Dekan FK UI: Indonesia Menuju Pendidikan Daring

 

Pendapat siswa sangat didengarkan, sehingga tanpa sadar tertanam jiwa demokratis sejak dini. Sementara ambisi bersaing ditekan. Berbeda dengan di Indonesia dan kebanyakan negara di dunia, yang terobsesi pada peringkat, Finlandia tidak menerapkan sistem nilai dan juara kelas.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X