Hardiknas, Pandemi Corona, dan Belajar dari Pendidikan Finlandia

Kompas.com - 02/05/2020, 20:24 WIB
Sistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah. DOK. KPG/DELLA YULIASistem Pendidikan Finlandia (KPG, 2019) ditulis oleh Ratih D. Adiputri, akademisi Indonesia yang kini peneliti post-doc bidang ilmu politik di Universitas Jyväskylä, Finlandia Tengah.

Pengalaman Ratih mencari sekolah untuk anaknya di Indonesia, pihak sekolah menawarkan fasilitas mewah dan pelajaran yang dibawakan dengan bahasa asing, daripada menonjolkan kurikulumnya.

“Di Indonesia, orang yang punya uang dapat mengakses pendidikan bermutu, sedangkan yang kurang mampu seperti menerima pendidikan ala kadarnya,” ujarnya.

Oleh karenanya, ia berharap dari pihak pemerintah muncul political will untuk menyelenggarakan pendidikan berkualitas untuk semua, bukan semata-mata untuk anak-anak dari keluarga yang berada saja.

Sistem Pendidikan Finlandia sejatinya sejalan dengan semangat Ki Hadjar Dewantara menggelorakan gerakan Taman Siswa.

Tinggal bagaimana pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sekarang mengimplementasikannya melalui cetak biru sistem pendidikan Indonesia yang katanya sudah dirancang sejak 2007 tersebut.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makariem baru-baru ini meniadakan UN. Ini kebijakan darurat yang dikeluarkan karena pandemi. Belum diketahui apakah UN akan benar-benar dihapuskan pada masa mendatang.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, baru-baru ini meluncurkan program kartu prakerja yang misinya sefilosofi dengan Finlandia, pembelajaran seumur hidup.

Kartu ini digadang-gadang menjadi solusi untuk menjadikan pendidikan rata untuk semua karena membantu meringankan biaya pelatihan untuk angkatan siap kerja dan memungkinkan orang meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya tanpa batasan usia.

Baca juga: Hardiknas 2020, Chelsea Islan Lakukan Ini demi Siswa Indonesia Timur

Belum diketahui apa terobosan pemerintah untuk mengatasi kegagapan kita pada teknologi, dan pemerataan akses telekonunikasi.

Sambil menunggu pemerintah bekerja, kita yang punya akses dekat terhadap informasi, kiranya dapat memanfaatkan akses pendidikan itu dengan baik. Belajar bisa dari mana saja, meski tetap harus selektif. Jangan belajar dari sumber-sumber bodong.

Selain dari internet, buku-buku ini juga bisa jadi rujukan untuk belajar dan meneruskan semangat Ki Hadjar Dewantara memajukan sistem pendidikan di Indonesia, yaitu;

  • "Teach Like Finland" (Grasindo, 2017)
  • "Learning 5.1: Duluan Tiba di Masa Depan" (KPG, 2020)
  • "Belajar Cara Belajar" (POP, 2020)
  • "The Power of Habit" (KPG, 2013)
  • "From Dream to Habit" (KPG, 2019).

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X