Gerakan Sekolah Menyenangkan: Kurikulum "Ketahanan Diri" di Normal Baru Pendidikan

Kompas.com - 05/06/2020, 14:32 WIB
Siswa SDN Sigit 3 Desa Sigit, Tangen, Sragen, Jawa Tengah sedang belajar kelompok di rumah. Dok pribadi Lulu KartikaSiswa SDN Sigit 3 Desa Sigit, Tangen, Sragen, Jawa Tengah sedang belajar kelompok di rumah.

KOMPAS.com - Kemendikbud telah memutuskan membuka tahun ajaran baru 2020/2021 pada 13 Juli 2020. Meski Kemendikbud menjelaskan pembukaan tahun ajaran berbeda dengan belajar tatap muka, muncul berbagai usulan untuk memundurkan tahun ajaran hingga Januari 2021.

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyampaikan (5/9/2020) tidak ada manfaat memundurkan tahun ajaran baru ke Januari 2021 karena tidak ada jaminan pandemi akan berhenti dan vaksin ditemukan pada waktu tersebut.

“Tidak ada jaminan pandemi ini akan berhenti. Vaksin yang ditemukan dan diujicobakan ke manusia hingga tahapan digandakan atau replikasi hingga miliaran untuk didistribusikan ke seluruh negara saja akan membutuhkan waktu hingga 1-2 tahun lamanya," jelas Rizal.

Ia menegaskan, "jadi, pengunduran tidak akan menjamin anak-anak kita bebas dari Covid-19.”

Menyiapkan kurikulum "ketahanan diri" 

Menurut Rizal, yang perlu dipikirkan adalah segera menyiapkan konsep dasar serta pelaksanaan “kurikulum ketahanan diri” yang terdiri atas ketahanan fisik, mental, dan sosial.

Baca juga: 10 Poin Rancangan Syarat Pembukaan Sekolah di Zona Hijau oleh Kemendikbud

Hal tersebut dirasa sangat penting karena anak-anak perlu beradaptasi hidup di suasana yang berbeda dari biasanya karena pandemi belum akan berakhir dalam waktu dekat.

“Orientasi kurikulumnya bukan tentang penguasaan materi saja yang selama ini dilakukan, melainkan lebih berorientasi membangun ekologi sosial yang mengkoneksikan ilmu pengetahuan-kebutuhan keluarga-persoalan di kehidupan nyata.

Ia melanjutkan, "Bahkan untuk tingkat SMA hingga perguruan tinggi lebih berbasis riset-riset dasar untuk membantu melawan wabah corona ini.”

Ia berpendapat sebelum pemerintah menentukan keputusan terkait kelanjutan pendidikan ini perlu dilakukan survei ke masyarakat. Dikhawatirkan kampanye pemerintah tentang kenormalan baru (new normal) akan kehilangan momentum.

Para pendidik dan anak-anak justru kebingungan untuk membudayakan aktivitas pendidikan dengan kenormalan baru.

“Pendidikan dengan tatanan baru adalah blended learning, yakni mengintegrasikan pembelajaran tatap muka, online serta praktik problem solving. Tentunya hal ini dilakukan dengan proses yang bertahap.

Menurutnya, di periode Juli-Desember 2020, pembelajaran tatap muka tak perlu dilakukan. Selain untuk menghindari munculnya klaster baru Covid-19 di sekolah, masyarakat masih berproses menuju kehidupan persekolahan dengan tatanan baru.

"New normal" dunia pendidikan

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X