Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/09/2021, 09:01 WIB
|

KOMPAS.com - Bangsa Indonesia kaya akan alamnya. Salah satunya rempah-rempah. Dilansir dari berbagai literatur, di Indonesia terdapat sekitar 707.000 tanaman, termasuk rempah-rempah.

Menurut Akhmad Saikhu, M.Sc, PH., selaku Ketua B2P2TOOT Kementerian Kesehatan RI, banyaknya kekayaan hayati di Indonesia menjadi faktor pendorong terjadinya penjajahan di Indonesia.

Dari keterangan Saikhu, di zaman eksplorasi tersebut banyak bangsa-bangsa Eropa yang mendatangi wilayah Indonesia. Tujuannya untuk mendapatkan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan di negara-negara tersebut.

Baca juga: Siswa Ingin Jaga Imun? Rempah Ini Kaya Manfaat, Bonus Berat Badan Turun

"Selain bangsa Eropa juga berdatangan juga Cina, India dan Timur Tengah ke Indonesia. Kedatangannya melalui jalur perdagangan lintas Danau Sutera untuk memburu kekayaan rempah nusantara," terang Akhmad Saikhu dikutip dari laman Direktorat SD Kemendikbud Ristek, Minggu (5/9/2021).

Punya banyak manfaat

Dijelaskan, rempah Indonesia itu terdiri dari berbagai macam manfaat. Selain bisa dipakai sebagai bumbu masak atau kuliner juga bisa dipakai untuk obat tradisional.

Manfaat lainnya juga bisa menjadi bahan pengawet. Bahkan konsumsi rempah-rempah juga meningkat di tengah pandemi Covid-19, karena rempah memiliki khasiat menangkal virus dan meningkatkan imun tubuh.

"Di dalam rempah itu terdapat mikrobioma yang sebagian besar bisa menjaga keseimbangan daya tahan tubuh manusia. Manfaat rempah-rempah inilah yang menjadi daya tarik Eropa, khususnya lada, pala, cengkeh, kayu manis, adas, kapulaga dan kunyit," jelasnya.

Menurutnya, di Indonesia ada sekitar 25 jenis rempah-rempah yang dikenal masyarakat. Di antaranya ada kunyit, pala, kayu manis, cengkeh, jahe, saffron, kapulaga, kemukus, secang dan kemiri.

Ada juga serai, kencur, daun ketumbar, biji ketumbar, kluwek, lengkuas, bunga lawing, lada, vanili, andaliman, adas, daun salam, asam jawa dan jinten.

Sejarah pemanfaatan tumbuhan obat untuk kesehatan, menurutnya, bisa diketahui dari aspek arkeologi melalui relief Candi Borobudur.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+