Kompas.com - 11/10/2021, 11:36 WIB

Di ujung sarung, ada lekuk bergerigi tiga sebagai lambang huruf sin. Di bagian tengah bilah adalah huruf ra. Keseluruhannya membentuk kaligrafi Bismillahirrahmanirrahim. Karena penempaannya mengandung aspek religiusitas, maka penggunaannya tidak boleh keluar dari nilai agama.

Baca juga: Penutupan Felsi 2021: Pesan Meningkatkan Literasi dan Menemukan Renjana

Kalau secara ruang, beliau menunjuk ke bagian lekuk gagang adalah Kuta Alam. Ujung dari gagang adalah Ulee Lheue. Kemudian di sekitar pembatas gagang dan bilah adalah Lhokseumawe, kemudian Langsa.

Di bagian ujung merupakan kota Langkat Tamiang. “Tapi itu dulu, kalau sekarang di ujung ini adalah Merauke, karena sudah bersatu Aceh dengan Jawa (Indonesia),” terangnya dalam bahasa Aceh. Konsep ruang ini berarti, bahwa rencong harus digunakan dengan tujuan membela tanah air.

Tradisonal, dari pembuatan hingga pemasaran

Biasanya utoeh Ishak hanya membuat rencong ketika ada pesanan. Jika tidak memiliki pesanan, beliau turun ke sawah untuk mengisi waktu luangnya. Harga satu buah rencong yang dijualnya bisa mulai dari dua ratus ribu sampai dua jutaan.

Salah satu rencong yang terbilang mahal adalah rencong siwah, jenis rencong yang dipakai oleh Sultan Iskandar Muda. Murah dan mahalnya suatu rencong itu tergantung pada tingkat detail rencong tersebut.

Pembuatan untuk detail tinggi bisa memakan waktu sampai satu minggu, itupun jika bahan baku tersedia lengkap.

Saat ini beliau masih menggunakan teknik pemasaran tradisional, yaitu dengan menjual hasil karyanya ke pengepul. Terkadang juga, ada pemesanan dari luar kota, biasanya yang seperti ini sudah menggunakan aplikasi WhatsApp dalam berkomunikasi.

Sampai saat ini informasi tentang beliau hanya tersebar dari mulut ke mulut. Pemasaran melalui aplikasi ecommerce secara modern belum dimanfaatkan secara maksimal.

Bahan baku yang digunakan adalah besi putih untuk bilah dan sarungnya dari tanduk kerbau, atau lungke dalam bahasa Aceh. Untuk besi putih, biasanya didapat di tempat jualan rongsokan.

“Kadang ketemu kadang gak ketemu, gak tentu,” ucapnya. Kalau lungke jarang ada yang menjualnya di Aceh Utara dan sekitar. "Biasanya lungke sering dipesan dari Takengon, Sigli, dan Meulaboh,” ucap utoeh Ishak.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.