Kompas.com - 10/12/2021, 15:37 WIB

“Alasan saya mengambil topik ini adalah karena Indonesia terkenal dengan keanekaragaman hayati lautnya, sedangkan metode yang ada sekarang sangat terbatas,” tambah Onny. Maka, dirinya merasa perlu ada satu metode yang lebih relevan untuk dapat menggali kekayaan yang melimpah ini.

Onny yang pernah menempuh pendidikan magister di University of California ini mengatakan jika ia sudah lebih dulu menjalin jejaring dengan pembimbingnya.

“Sangat penting sekali untuk membangun komunikasi yang baik dengan calon pembimbing di universitas yang akan dituju,” tegasnya.

Di sisi lain, Mohammad Habib Abiyan D., kandidat doktor yang saat ini tengah menyelesaikan studinya di General International Relations, Johns Hopkins University, mempresentasikan risetnya terkait dengan isu lingkungan, yakni kenaikan permukaan air laut.

Menurut Habib, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap fenomena kenaikan permukaan air laut.

“Pertama, secara geografis, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang. Kedua, dari segi sosial ekonomi, 60% penduduk Indonesia berada di wilayah pesisir. Ketiga, dari segi politik keamanan, Indonesia sangat rentan karena 12 dari 14 pangkalan angkatan laut diproyeksikan akan terdampak. Terakhir, dari segi ekosistem, keanekaragaman koral kita harus dilingkungi karena menjadi salah satu yang rentan,” jelas Habib.

Habib banyak berkecimpung di isu perubahan iklim sebagai peneliti kebencanaan di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia ini, menyimpulkan jika isu naiknya permukaan air laut ini dapat memperparah risiko tsunami.

Ia juga mengatakan jika hal ini membutuhkan komitmen politik tidak hanya di tingkat pusat tapi juga daerah dan pembagian tugas yang jelas. Terakhir, agenda ini perlu dibawa dari sekedar dialog menjadi kerja sama praktis antar negara.

Menanggapi pemilihan universitas, Habib mengungkapkan beberapa alasan.

“Sebagai peneliti, Johns Hopkins menawarkan apa yang saya butuhkan. Mereka menekankan pentingnya kebijakan. Mereka juga memberikan kesempatan untuk belajar lebih lanjut dengan praktisi, salah satunya Prof. Jordaan,” terang Habib.

Selain itu, universitas tersebut juga menawarkan peningkatan keterampilan kuantitatif yang ia butuhkan.

“Selain pentingnya menjalin komunikasi dengan profesor di universitas target, membangun koneksi dengan figur penting yang ada di Indonesia juga dibutuhkan,” pungkas Habib yang menceritakan bagaimana ia memperoleh rekomendasi dari mantan Duta Besar RI untuk PBB, Hasyim Djalal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.