Hasanuddin Wahid
Sekjen PKB

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi X DPR-RI.

Mengawal "Merdeka Belajar"

Kompas.com - 14/05/2022, 05:44 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BERKENAAN dengan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) ke-61, pada 02 Mei 2022, saya mengundang para pembaca sekalian untuk mencermati secara kritis tentang sistem pendidikan nasional bangsa kita. Sebagaimana kita ketahui, sejak akhir 2019, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berusaha merevolusi sistem pendidikan nasional melalui serangkaian kebijakan berkelanjutan yang disebut gerakan “Merdeka Belajar”.

Secara konseptual, Merdeka Belajar adalah suatu gerakan untuk membebaskan lembaga pendidikan dan mendorong anak berinovasi dan mengembangkan pemikiran kreatif.

Konsep Merdeka Belajar, pertama-tama dimaksudkan untuk membebaskan lembaga pendidikan model pembelajaran yang terkungkung oleh epistemologi tabula rasa (Latin: papan kosong) bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan (kosong), dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengajaran guru, buku teks, dan pengalaman hidup.

Baca juga: Katanya Merdeka Belajar, Kok Siswanya Masih Terjajah Gini

Dengan kata lain, Merdeka Belajar bermaksud membantu peserta didik menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif, selalu berpikir kritis dan out of the box sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dinamis.

Kedua, Merdeka Belajar dimaksudkan untuk mendorong pengembangan karakter (character building) di mana para siswa belajar berkolaborasi dengan orang lain, menghormati perbedaan, bersikap adil, dan mengendalikan emosi negatif.

Di bawah sistem Merdeka Belajar ada program Sekolah Penggerak (Sekolah Pemrakarsa) dan Guru Penggerak untuk mendorong kolaborasi sekolah dan guru guna mempromosikan praktik pembelajaran yang progresif, kreatif, dan menyenangkan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

Diragukan akan berhasil

Secara ideal, konsep Merdeka Belajar sangat indah dan sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan kita yang sudah lama terkungkung oleh model pembelajaran yang ‘tak merdeka’.

Namun, baik pendukung maupun kritikus meragukan bagaimana pendekatan Merdeka Belajar bisa berjalan efektif di tengah maraknya pembelajaran online akibat Covid-19, apalagi di era digitalisasi di berbagai sektor kehidupan, termasuk di sektor pendidikan.

Masalah utama pendidikan yang terjadi selama pandemi, adalah banyak guru hanya memindahkan metode pengajaran tatap muka tradisional ke metode pembelajaran secara online.

Pada titik tertentu, hal ini dapat dimaklumi. Sebab banyak, bahkan sebagian besar guru, belum dilatih untuk mengelola pembelajaran secara online. Dengan ketrampilan digital seadanya, para guru mencoba mendapatkan perhatian para siswa dari waktu ke waktu dan mengajak mereka untuk belajar melalui aplikasi Zoom atau Google Classroom dan terkadang hanya dengan aplikasi perpesanan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.