SDM Unggul: Bagaimana “Perang” Dimenangkan

Kompas.com - 13/12/2019, 11:35 WIB
Para pemain Timnas Vietnam merayakan kemenangan atas Indonesia usai laga final sepak bola SEA Games 2019 yang digelar di Stadion Rizal Memorial, Filipina, Selasa (10/12/2019) malam. Vietnam berhasil meraih medali emas sepak bola SEA Games setelah menundukkan Indonesia dengan skor 3-0. AFP/WAKIL KOHSARPara pemain Timnas Vietnam merayakan kemenangan atas Indonesia usai laga final sepak bola SEA Games 2019 yang digelar di Stadion Rizal Memorial, Filipina, Selasa (10/12/2019) malam. Vietnam berhasil meraih medali emas sepak bola SEA Games setelah menundukkan Indonesia dengan skor 3-0.

KOMPAS.com - Peringkat perolehan medali emas Indonesia pada penutupan pesta olah raga Asia Tenggara (SEA Games) 2019 berada di posisi ke empat di belakang Vietnam dan Thailand.

Filipina sebagai tuan rumah sudah jauh melejit meninggalkan negara-negara lainnya. Mata saya bukan terkesima oleh prestasi Filipina sebagai pemuncak sementara perolehan medali, tapi Vietnam. Vietnam? Kok bisa Vietnam stabil di dua atau tiga besar perolehan medali emas?

Pikiran saya lalu menjelajah ke mana-mana, dan akhirnya terjerembab ke dinamika diskursus mengenai “ SDM Unggul” yang sedang hit di desa kecil bernama Indonesia ini.

Memang tak berhubungan langsung dengan SEA Games di Filipina, tetapi melihat sepak terjang bangsa Viet di ajang olah raga antar bangsa tersebut, maka membahas SDM Unggul tiba-tiba menjadi relevan.

Apakah Knowledge dan Skill bisa memenangkan “perang”?

Pertengahan September lalu sempat terjadi polemik atas fakta bahwa 33 perusahaan China merelokasi 23 pabriknya ke Vietnam, dan 10 lainnya disebar ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Indonesia dengan jumlah pekerja yang masif tak kebagian satu pun. Aneh? Mungkin.

Kepala China National Committee for Pacific Economic Cooperation, Su Ge, memang sudah memberikan penjelasan soal itu, bahwasanya lokasi Vietnam dekat dengan China, tepatnya wilayah industri Guangxi.

Dan itu alasan praktis mengapa relokasi ditujukan ke Vietnam. Tapi bagaimana dengan 10 pabrik lainnya yang dipindahkan ke Malaysia, Thailand dan Kamboja? Apakah cara kita mengelola pabrik-pabrik kalah kompetitif dibanding ketiga negara itu?

Adakah yang salah, atau sangat salah, dengan kurang menariknya Indonesia sebagai pusat produksi bagi investor-investor asing (tak hanya China saja)? Ribetnya regulasi? Mungkin. Tapi dengan komitmen politik, itu bisa segera diperbaiki.

Ribetnya urusan dengan birokrasi investasi? Itu juga bisa segera diperbaiki. Masalah politik? Bangsa mana yang tak ribet dengan urusan politik? Malaysia tak terlalu beda jauh dengan Indonesia soal itu. Pun dengan Thailand. Saya tak tahu soal Kamboja, tapi saya kira tak jauh berbeda.

Untuk sejenak saya mengingat-ingat kembali mengapa di tahun 2011 Research in Motion (RIM), produsen BlackBerry, batal berinvestasi di Indonesia dan lebih memilih Malaysia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X