Mahendra K Datu
Pekerja corporate research

Pekerja corporate research. Aktivitas penelitiannya mencakup Asia Tenggara. Sejak kembali ke tanah air pada 2003 setelah 10 tahun meninggalkan Indonesia, Mahendra mulai menekuni training korporat untuk bidang Sales, Marketing, Communication, Strategic Management, Competititve Inteligent, dan Negotiation, serta Personal Development.

SDM Unggul: Bagaimana “Perang” Dimenangkan

Kompas.com - 13/12/2019, 11:35 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Peringkat perolehan medali emas Indonesia pada penutupan pesta olah raga Asia Tenggara (SEA Games) 2019 berada di posisi ke empat di belakang Vietnam dan Thailand.

Filipina sebagai tuan rumah sudah jauh melejit meninggalkan negara-negara lainnya. Mata saya bukan terkesima oleh prestasi Filipina sebagai pemuncak sementara perolehan medali, tapi Vietnam. Vietnam? Kok bisa Vietnam stabil di dua atau tiga besar perolehan medali emas?

Pikiran saya lalu menjelajah ke mana-mana, dan akhirnya terjerembab ke dinamika diskursus mengenai “SDM Unggul” yang sedang hit di desa kecil bernama Indonesia ini.

Memang tak berhubungan langsung dengan SEA Games di Filipina, tetapi melihat sepak terjang bangsa Viet di ajang olah raga antar bangsa tersebut, maka membahas SDM Unggul tiba-tiba menjadi relevan.

Apakah Knowledge dan Skill bisa memenangkan “perang”?

Pertengahan September lalu sempat terjadi polemik atas fakta bahwa 33 perusahaan China merelokasi 23 pabriknya ke Vietnam, dan 10 lainnya disebar ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Indonesia dengan jumlah pekerja yang masif tak kebagian satu pun. Aneh? Mungkin.

Kepala China National Committee for Pacific Economic Cooperation, Su Ge, memang sudah memberikan penjelasan soal itu, bahwasanya lokasi Vietnam dekat dengan China, tepatnya wilayah industri Guangxi.

Dan itu alasan praktis mengapa relokasi ditujukan ke Vietnam. Tapi bagaimana dengan 10 pabrik lainnya yang dipindahkan ke Malaysia, Thailand dan Kamboja? Apakah cara kita mengelola pabrik-pabrik kalah kompetitif dibanding ketiga negara itu?

Adakah yang salah, atau sangat salah, dengan kurang menariknya Indonesia sebagai pusat produksi bagi investor-investor asing (tak hanya China saja)? Ribetnya regulasi? Mungkin. Tapi dengan komitmen politik, itu bisa segera diperbaiki.

Ribetnya urusan dengan birokrasi investasi? Itu juga bisa segera diperbaiki. Masalah politik? Bangsa mana yang tak ribet dengan urusan politik? Malaysia tak terlalu beda jauh dengan Indonesia soal itu. Pun dengan Thailand. Saya tak tahu soal Kamboja, tapi saya kira tak jauh berbeda.

Untuk sejenak saya mengingat-ingat kembali mengapa di tahun 2011 Research in Motion (RIM), produsen BlackBerry, batal berinvestasi di Indonesia dan lebih memilih Malaysia.

Keberatan pihak RIM waktu itu adalah kewajiban membangun data center di Indonesia. Apakah lokasi data center maha penting? Mengapa Malaysia bisa ‘memberikan keleluasaan’ bagi RIM untuk tidak membangun data center di sana? Adakah bahaya nasional bila data center tidak dibangun secara lokal? Bisa ada 1001 argumen soal itu. Jadi apa masalahnya?

Nah, kembali ke target SDM Unggul yang sedang digaungkan realisasinya oleh pemerintah Indonesia, berbagai diskusi dengan pemain industri maupun pengelola pendidikan pun gencar dilakukan.

Tujuannya jelas: kita harus segera membangun strategi untuk mencetak SDM Unggul melalui institusi pendidikan, baik formal, informal, maupun non formal, yang terhubung langsung dengan kebutuhan industri saat ini dan proyeksinya di masa depan.

Tentu saja terlalu naif untuk mengatakan bahwa daya saing ekonomi dan industri kita hanya terletak pada strategi SDM unggul. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang ini dulu.

Rapuhnya daya saing global

Urgensi strategi SDM Unggul dilandasi  begitu rapuhnya daya saing SDM kita saat globalisasi hadir di halaman rumah kita.

Dan globalisasi tak hadir sendirian kali ini, ia hadir bersama dengan teknologi yang sangat canggih dan dinamis, teknologi yang mampu memobilisasi dan mengorkestrasi segala bentuk sumber daya, serta bauran semangat etos kerja yang sangat majemuk dari berbagai bangsa. Saya akan bicarakan dari sisi etos kerjanya.

Pertama, akan sia-sia membicarakan strategi mencetak SDM Unggul kalau hanya melalui strategi formal (misal melalui institusi pendidikan/ pelatihan ketrampilan). Pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) hanya akan menciptakan pekerja yang unggul.

Ya hanya sejauh itu saja. SDM jauh lebih besar daripada sebuah profesi tertentu. SDM Unggul tak melulu soal kompetensi saja, karena untuk mempertahankan daya saing di sisi ini jelas lemah. Bukankah strategi bangsa-bangsa lain juga tak jauh dari strategi ini?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.