Kenali 15 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Kompas.com - 12/01/2020, 17:32 WIB
ilustrasi anak shutterstockilustrasi anak

7. Gangguan bipolar

Ini terjadi jika adanya perubahan mood yang berlangsung drastis tanpa ada alasan yang sangat kuat. Anak bisa menjadi terlalu gembira akan suatu hal namun bisa menjadi terlalu sedih hingga depresi dan ingin bunuh diri tanpa alasan yang pasti.

Tanda ini membahayakan terutama bagi mereka yang tidak tahu bagaimana pengendalian yang tepat untuk menghindari adanya perubahan mood ekstrim ini. Mereka yang menderita gangguan bipolar biasanya diredakan dengan terapis dan berbagai metode lainnya.

8. Skizofrenia

Ini biasa terjadi pada anak usia tanggung hingga masa pubertas usia 20 tahun. Skizofrenia merupakan penyakit mental yang dianggap sudah kronis dimana penyakit ini menyebabkan anak kehilangan kemampuan untuk mengetahui apakah ia sedang mengalami hal nyata atau realitas atau tidak.

Baca juga: Orangtua, Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Anak Masuk PAUD

Mereka juga merasa bahwa dengan hal-hal buruk bisa menyadarkan mereka yang sedang dihadapi adalah dunia nyata.

9. Gangguan Somatoform

Gangguan ini terjadi jika sang penderita merasakan sakit yang amat dibagian tubuhnya namun sebenarnya ia tidak menderita apapun. Bahkan jika diperiksakan ke dokter ataupun pengobatan lainnya si pengidap justru sehat-sehat saja.

Hal ini terjadi karena ilusi yang diciptakan oleh mereka sendiri, padahal mereka tidak mengalami gangguan medis.

10. Sindrom gender dan seksual

Ini memang seringkali semakin menjadi ketika dewasa dan menyebabkan banyak anak remaja justru salah kaprah dan menyimpang. Namun gangguan gender dan seksual bisa muncul sejak kecil atau sejak awal anak-anak bersosialisasi.

Hal ini cukup membahayakan dimana ia bisa bertindak diluar batasan baik norma maupun agama dan perkembangan gangguannya akan semakin parah seiring umur bertambah.

11. Sindrom respon stres

Sindrom ini terjadi bagi mereka yang memiliki pribadi sangat emosional hingga orang disektar yang ingin bersosialisasi tampak tidak bisa toleransi dengan pengidapnya.

Umumnya mereka akan mengalami sindrom ini setelah mengalami hal yang tidak diinginkan atau tidak bisa diterima dengan baik seperti perceraian, bencana alam, kematian seseorang dan lainnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X