Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
APTIK - Berbagi Gagasan untuk Bangsa
Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik

Platform Pusat Kajian Pendidikan Tinggi Indonesia Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (Aptik) guna menyebarluaskan gagasan mengenai pendidikan tinggi untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Mengembalikan "Roh Pendidikan" lewat Pedagogi Belajar Daring dari Rumah

Kompas.com - 14/09/2020, 11:46 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sayangnya, paradigma SCL yang sudah dipromosikan lebih dari 50 tahun lalu di antaranya oleh Jean Piaget, Carl Rogers, dan Maria Montessori, tidak banyak dipraktekkan di sekolah maupun di perguruan tinggi.

Hal ini sangat kentara ketika semua pihak berteriak ‘berat’ saat kita terpaksa belajar dari rumah untuk menyekat penyebaran virus corona.

Guru dan dosen merasa berat karena kesulitan meneruskan kebiasaan selama ini yakni mengajar alias menerangkan.

Peserta didik juga demikian karena kesulitan menghadapi realitas baru yang tidak bisa lagi bersifat pasif, mendengarkan, dan menerima penjelasan.

Dalam satu kalimat, paradigma SCL meyakini bahwa pembelajaran yang baik terjadi bila peserta didik semakin mandiri dalam belajar.

Dalam SCL, pertanyaan utamanya bukan bagaimana guru atau dosen mengajar dengan baik dan efektif tetapi bagaimana merancang kegiatan belajar supaya peserta didik mempunyai pengalaman belajar mandiri yang optimal.

Dengan demikian jelas bahwa orientasinya adalah memastikan bahwa peserta didik belajar dan bukan guru/dosen mengajar dengan baik.

Rencana Kegiatan Belajar Mandiri

Ketika pengajar akan menerapkan paradigma SCL maka ia harus pertama-tama menyusun RKBM yang artinya bukan Rencana Kegiatan Belajar Mengajar melainkan Rencana Kegiatan Belajar Mandiri untuk peserta didiknya.

Jadi yang disiapkan bukan apa yang akan dikerjakan oleh pengajar tetapi justru apa yang harus dilakukan oleh peserta didik. Tentu ini tidak mudah karena situasi dan kondisi setiap peserta didik berbeda.

Kesulitan ini meningkat manakala kondisi dan kemampuan setiap keluarga berbeda dalam menopang kegiatan belajar dari rumah. Lagipula, keharusan menjaga jarak fisik dan sosial menjadikan setiap peserta didik memiliki keterbatasan dalam menentukan aktifitas yang bisa dilakukan.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+