Kompas.com - 05/11/2020, 14:39 WIB
Ilustrasi orangtua yang sedang menemani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) saat pembelajaran daring. DOK. PEXELSIlustrasi orangtua yang sedang menemani Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) saat pembelajaran daring.

3. Membangun berlanjutan

“Mengalami rute pengalaman belajar yang terarah dan berkelanjutan. Ini memberikan umpan balik dan berbagi praktik baik antara guru dan orangtua,” jelas Diana.

Caranya ialah guru dan orangtua berdiskusi tentang apa yang sudah dipelajari, tantangan atau kesulitan yang dihadapi, dan strategi untuk mengatasinya.

4. Memilih tantangan

Selanjutnya, sekolah dapat membangun komunikasi dengan orangtua untuk menyesesuaikan keahlian keahlian PDBK dengan pilihan tantangan yang bermakna.

Baca juga: Perhatikan Pendidikan Seks Tunagrahita, Kemendikbud Luncurkan Modul PKRS

“Artinya bahwa ABK kan dari dasar yang memangnya ini proses pembelajaran, proses pembelajaran itu di mana kita memberikan suatu pembelajran dari awalnya tidak bisa sehingga menjadi bisa. Ini adalah suatu tantangan bagaimana anak bisa menguasai, caranya dengan pilihan yang sesuai dengan profilnya, sesuai dengan kemampuannya,” ujar Diana.

Orangtua juga dapat memberikan pilihan media, cara untuk belajar atau melakukan tugas, dan menyusun jadwal belajar bersama ABK.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

5. Memberdayakan hubungan

Sekolah dapat memberdayakan hubungan dengan melibatkan sumber daya dan kesempatan di komunitas.

Orangtua pun bisa mendorong anak untuk terlibat mengenali komunitasnya sebagai akses belajar anak yang relevan.

Dengan bergabung dalam suatu komunitas, orangtua juga dapat membangun diskusi mengenai peristiwa atau persoalan yang sedang terjadi dan menghubungkan pembelajaran anak dengan konteks komunitas terdekatnya.

“Ini menghubungkan pembelajaran dengan konteks komunitasnya yang terdekat. Dengan orangtua, dari kakak atau orang-orang sekitar yang lainnya. Ini tergantung dari topiknya yang relevan,” jelas Diana.

Selain itu, komunitas dapat menjadi narasumber untuk topik-topik yang relevan dengan pembelajaran ABK, misalnya membahas pekerjaan.

Menurut Diana, orangtua menjadi narasumber yang utama bagi PDBK saat PJJ.

“Jadi saling berkolaborasi dan ini (PJJ) adalah narasumber yang utama adalah orangtua. Orangtua akan menjadi narasumber sebagai anak belajar,” ucapnya lewat aplikasi Zoom.

Tetap semangat saat PJJ

Dalam konteks pembelajaran di sekolah Diana, guru-guru di sekolahnya tidak berhenti saat dihadapkan dengan tantangan dan tetap mencari solusi.

“Kami mencari solusi bagaimana kami mencari pembelajaran yang bermakna bagi ABK terutamanya di masa pandemi seperti ini,” jelasnya.

Meskipun letak SLBS Putra Hanjuang berada jauh dari perkotaan, tetapi Diana bercerita bahwa hal tersebut tidak mematahkan semangat pendidik.

Diana pun menitipkan pesan agar guru-guru di Tanah Air agar tetap semangat untuk menghadapi PJJ saat pandemi Covid-19.

“Jadi intinya adalah kepada Bapak dan Ibu semua yang ada di Tanah Air Indonesia, terus semangat bagaimanapun keadaan kita,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.