Kompas.com - 08/11/2020, 19:11 WIB
Ilustrasi musim hujan yang dipengaruhi La Nina. BMKG merilisi anomali iklim La Nina sedang berkembang di Samudera Pasifik, dampaknya pada Indonesa dapat menyebabkan curah hujan yang tinggi dan berakibat pada bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor. SHUTTERSTOCK/CHOKCHAI POOMICHAIYAIlustrasi musim hujan yang dipengaruhi La Nina. BMKG merilisi anomali iklim La Nina sedang berkembang di Samudera Pasifik, dampaknya pada Indonesa dapat menyebabkan curah hujan yang tinggi dan berakibat pada bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.
|

KOMPAS.com - Memasuki musim penghujan, Indonesia harus waspada terhadap segala ancaman bencana. Selain banjir, ada pula angin puting beliung hingga terjadinya tanah longsor.

Tak hanya itu saja, ada pula fenomena La Nina yang biasa terjadi di musim penghujan. Biasanya, ada sejumlah wilayah di Indonesia yang terancam cuaca ekstrem.

Akademisi IPB University dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (GFM-FMIPA), Dr. Perdinan angkat bicara terkait La Nina.

Menurut Perdinan, La Nina sangat berdampak bagi Indonesia, terutama jika terjadi di musim penghujan pada wilayah yang bertipe iklim monsunal. Yaitu wilayah yang memiliki curah hujan tinggi saat akhir dan awal tahun.

Baca juga: Begini Gaya Pengasuhan Anak Saat Pandemi dari Akademisi IPB

"Secara umum, jika La Nina terjadi di musim hujan maka dampaknya akan lebih besar, khususnya pada wilayah yang bertipe iklim monsunal," ujarnya seperti dikutip dari laman IPB University, Jumat (6/11/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wilayah-wilayah itu antara lain mayoritas Pulau Jawa, sebagian Sumatera, Bali dan di sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT).

Akibatnya, La Nina akan menjadikan musim hujan bertambah lama dan curah hujan juga akan lebih tinggi.

Tidak identik dengan banjir

Jika curah hujan tinggi, maka potensi bajir bagi wilayah yang rentan juga semakin tinggi. Namun, Dr Perdinan menilai La Nina tidak selamanya identik dengan banjir.

Tingginya curah hujan, menurut dia bisa memberikan dampak positif, karena pasokan air menjadi lebih banyak. "Pertanyaannya, dengan air yang lebih banyak, ini berkah atau musibah?," tanya dia.

Jika terjadi pada wilayah persawahan atau rentan banjir, bisa jadi musibah. Tapi jika jatuh di wilayah yang memiliki waduk dan terdapat pembangkit listrik tenaga air, ini bisa jadi berkah sebab menambah jumlah volume air di waduk.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.