Menyiapkan "Normal Baru" Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa Kita

Kompas.com - 31/05/2020, 17:23 WIB
Ilustrasi Normal Baru Pendidikan DOK. PIXABAYIlustrasi Normal Baru Pendidikan

 

Kemendikbud telah menegaskan pembukaan kembali sekolah akan diputuskan berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Prinsipnya, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama (Kompas, 27 Mei 2020).

Bila diputuskan siswa kembali bersekolah, sebaiknya tidak diberlakukan untuk semua sekolah. Hanya daerah zona hijau atau tanpa kasus baru Covid-19 yang diperkenankan membuka sekolah.

Kitapun harus belajar dari beberapa negara yang sudah membuka sekolah. Perancis dan Korea Selatan kembali menutup sekolah, setelah ditemukan kembali kasus baru Covid-19.

Pembukaan sekolah di Indonesia harus betul-betul mempertimbangkan keamanan siswa. Tatap muka di sekolah ini, misalnya diprioritaskan untuk siswa yang memerlukan.

Mungkin untuk memfasilitasi mereka yang tidak memiliki akses internet atau memerlukan pendampingan belajar khusus dari guru. Hanya perlu dipastikan guru, orangtua, dan siswa harus melaksanakan protokol pencegahan penularan virus.

Selain itu jumlah siswa perkelas juga dibatasi, maksimal 10 siswa dalam satu kelas. Jam tatap muka juga lebih menerapkan pertemuan berkualitas yang tidak lebih dari 2-3 jam perhari, dan tidak harus setiap hari. Sekolah membuat shift belajar di kelas yang diatur penjadwalannya.

Siswa yang menggunakan kendaraan umum tetap harus belajar dari rumah. Prinsipnya, semua aktivitas yang berpotensi terjadinya penularan virus harus dibatasi.

Terapkan pembelajaran bauran

Guru juga perlu dilatih merancang pembelajaran bauran (blended learning) yang mengkombinasikan tatap muka di kelas dan pembelajaran daring. Model pembelajaran bauran ini bisa menjadi bagian dari kenormalan baru belajar.

Baca juga: Ini 4 Alasan Kemendikbud Tidak Mundurkan Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Siswa yang tidak bisa mengakses pembelajaran daring perlu dibantu. Apakah sekolah dapat meminjami fasilitas seperti gawai pintar atau tablet, dan menyediakan akses internet untuk siswa.

Anggaran sekolah perlu diatur ulang agar dapat membantu semua siswa bisa mengakses pembelajaran dengan segala keterbatasannya.

Guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi, harus difasilitasi agar mereka bisa memanfaatkannya untuk pembelajaran.

Yang juga lebih penting, membantu guru untuk mampu menyediakan pembelajaran berkualitas yang bermakna untuk siswanya dalam kenormalan baru belajar.

Aspek penting "new normal" pembelajaran

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X