Menyiapkan "Normal Baru" Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa Kita

Kompas.com - 31/05/2020, 17:23 WIB
Nanang Nuryanto saat mendampingi siswanya belajar di rumah Desan Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, Selasa (5/5/2020).    HO/Nanang Nuryanto Nanang Nuryanto saat mendampingi siswanya belajar di rumah Desan Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, Selasa (5/5/2020).

 

Beberapa ahli pendidikan juga telah menyampaikan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan kenormalan baru dalam pembelajaran di masa pandemi. Apa saja?

1. Partisipasi aktif keluarga

Ketika pembelajaran berlangsung di rumah, maka anggota keluarga harus dilibatkan menjadi fasilitator pembelajaran.

Mereka dapat dilibatkan dalam memberikan bimbingan dan bantuan untuk membuat proses belajar menyenangkan bagi siswa. Tentunya hal ini perlu dukungan sekolah yang melatih peran keluarga dalam mendampingi anak belajar di rumah.

2. Pergeseran ruang belajar

Satu hal yang substansial dalam proses pembelajaran bukan terletak pada gedung sekolah atau ruang kelas.

Belajar sekarang terjadi di rumah, di dalam ruang pribadi anak. Pemanfaatan internet membuat ruang belajar dapat dilakukan melalui perangkat pribadi tanpa harus pergi ke suatu tempat secara fisik.

3. Pembelajaran individual dan berbeda

Individual dan berbeda berarti mengajar setiap siswa harus dilakukan secara unik. Tujuan pembelajaran mungkin tetap sama untuk sekelompok siswa tetapi siswa secara individu dapat berbeda.

Beberapa siswa mungkin belajar lebih baik melalui menonton video sementara beberapa perlu membaca buku bacaan. Aksesibilitas materi pembelajaran dan mendistribusikan sumber belajar dari rumah ke rumah dapat menjadi tantangan bagi guru.

4. Dari ujian ke penilaian formatif

Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri SurabayaDOK. TANOTO FOUNDATION Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya
Evaluasi pembelajaran harus digunakan untuk memantau perkembangan siswa, bukan untuk ‘menetapkan’ seorang siswa itu mampu atau tidak mampu. Penilaian formatif seperti demonstrasi proyek sains, penyelesaian masalah matematika, atau membuat laporan proyek sosial lebih tepat untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

Keempat aspek ini, bisa menjadi pertimbangan untuk membantu siswa memasuki era kenormalan baru belajar.

Baca juga: Tahun Ajaran Baru Dibuka 13 Juli, Kemendikbud: Tidak Harus Tatap Muka

Perubahan ini pulalah yang semakin meneguhkan kita bahwa dalam belajar yang paling penting adalah pemberian pengalaman "PROSES" daripada penjejalan "KONTEN".

Siswa dibiasakan berproses mengambil keputusan sendiri. Mencoba cara sendiri dalam memecahkan masalah tanpa rasa takut salah.

Terbiasa mencari cara lain bila suatu cara yang dipilih dianggap kurang efektif, dan sebagainya. Sehingga mereka akan terbiasa dalam menghadapi perubahan dalam hidupnya.

Penulis: Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X