Kompas.com - 14/09/2020, 17:01 WIB
Menulis Kreatif dan Berpikir Filosofis (KPG, Agustus 2020) karya Ayu Utami. DOK. KPG/GRACE GABRIELLAMenulis Kreatif dan Berpikir Filosofis (KPG, Agustus 2020) karya Ayu Utami.

Selesai satu paragraf, pembaca akan diajak menganalisa tulisannya. Apakah sudah mengandung unsur-unsur utama dalam penulisan cerita yang menarik? Ayu biasa menyebut unsur utama penulisan kreatif itu sebagai 4T: Tokoh, Tensi, Tempat, dan Tema.

Saat kita menulis dengan kata “aku”, atau “kamu”, atau “ia” tadi, berarti kita sudah memenuhi satu unsur cerita, yakni tokoh.

Kemudian kita lihat, apakah peristiwa yang dialami tokoh sudah mengandung ketegangan atau belum.

Jika belum, selanjutnya kita harus memberikan tensi dalam cerita. Ketegangan atau kemungkinan baik dan buruk yang akan dilalui si tokoh lambat laun akan membawa penulis ke ujung cerita, yakni penyelesaian masalah.

Perjalanan ini tanpa disadari akan membentuk 3 struktur dasar cerita atau narasi. Ayu memakai istilah Ci-Luk-Ba.

“Ci adalah bagian awal, ketika orang dewasa atau pencerita memperkenalkan wajah (atau tokoh) pada anak (pembaca). Luk adalah bagian tengah, ketika wajah itu ditutup dan terjadi dua kemunginan: apakah wajah itu akan kembali atau tidak. Ba adalah bagian ketika penyelesaian dari tegangan itu diberikan,” jelasnya.

Proses menulis kreatif itu menurut Ayu Utami seperti menjalani kehidupan. Ada naik turunnya, ada ketegangannya, dan disadari atau tidak kita selama ini melewati fase-fase kehidupan dengan intuisi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menulis dengan intuisi ini cocok untuk menulis sebagai sarana menemukan dan mengaktualisasikan diri yang otentik,” terang Ayu dalam buku "Menulis Kreatif dan Berpikir Filosofis".

Baca juga: Pangan Lokal, Jalan Keluar dari Jebakan Krisis Pangan

Renungan filosofis

Untuk menemukan diri yang otentik, selain seni menulis, dibutuhkan renungan filosofis. Dalam hal ini, Ayu mengajak Yulius Tandyanto, pustakawan dan pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, untuk menjelaskan.

Mengingat cerita yang kita tulis pasti ada tokohnya, dan ketokohan itu pasti punya pergulatan batin khas manusia, Yulius menyederhanakan empat kajian besar dalam filsafat guna menggali bobot filosofis dalam cerita yang akan kita tulis.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.